​Tuhan Baru

Posted on


Oleh ; Muammar Rafsanjani – PK FAI UMY

Beberapa hari terakhir ini, kita kembali digemparkan oleh peristiwa bencana alam yang terjadi di Garut-Jawa Berat. Sebuah bencana alam yang menelan banyak korban, meratakan Garut dengan tanah. Namun, media khususnya media massa tidak memainkan perannya dengan cukup baik pada peristiwa yang begitu memprihatinkan ini. Sungguh hal demikian merupakan sebuah bentuk kedzoliman media terhadap  masyarakat Indonesia, khususnya Garut pada saat ini.

Media massa di Indonesia idealnya menjadi sebuah media jaringan yang memberikan informasi mengenai peristiwa yang terjadi dari Sabang sampai Merauke. Namun, media massa yang ada di Indonesia saat ini bersifat Jakartasentris dimana hanya menayangkan dan menampilkan informasi yang terkait dengan peristiwa-peristiwa yang ada di Jakarta. Mulai dari kasus kopi sianida, siapa yang akan memenangkan DKI 1, kemacetan di Jakarta dan segala yang terkait dengan Jakarta. Apakah kita berkeluarga dengan Mirna atau Jessica? Apakah dengan berita kemacetan di Jakarta kita yang berada diluar Jakarta seperti warga bogor bisa mencari jalan alternative lain ketika terjadi kemacetan di kota bogor mengingat kota bogor juga termasuk kota yang paling macet di Indonesia? Apakah informasi-informasi yang disampaikan media massa terkait Jakarta bermanfaat bagi kita seluruh warga Negara Indonesia?! Fakta yang ada menjawab ‘Tidak’. Padahal sebagai bagian dari warga Indonesia kita semua berhak mendapatkan informasi yang layak serta bermanfaat. Tidak hanya bermanfaat bagi warga Jakarta, tapi untuk seluruh warga Negara Indonesia. 

Kembali lagi kepada pemberitaan bencana alam di Garut. Pun ketika diberitakan, sungguh ironi dimana media massa menggunakan kalimat “Banjir bandang di Garut adalah azab perzinahan yang merajalela” sebagai tajuk beritanya. Sebuah pernyataan yang begitu menyakitkan bagi warga garut yang sedang dirundung duka. Dari pernyataan semacam ini kemudian menimbulkan opini negative dimasyarakat yang selanjutnya mengikis rasa empati masyarakat terhadap warga garut. Okelah kalau memang bencana alam ini benar terjadi seiring dengan merajalelanya perbuatan-perbuatan negative di Garut seperti perzinahan, namun kita tidak bisa menjustifikasi langsung bahwa bencana banjir ini adalah azab dari-Nya atas perbuatan tersebut, sebab hal itu tetap merupakan Rahasia Ilahi. Cukuplah bagi kita untuk intropeksi diri. Ataukah dengan kekuatannya yang sangat besar media massa kini menjelma menjadi Tuhan baru yang serba tahu akan segala hal? 

Sang Guru Kedua Dunia

Posted on

(Oleh: AR Pee – PK IMM FE UMY)
Siapa dia, guru dunia setelah Aristoteles dari Negara seribu dewa? Yups, dia menyandang nama lengkap Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh. Sedangkan di belahan bumi Eropa, Al-Farabi lebih dikenali dengan nama Alpharabius. Beliau lahir di Wasij, Daerah Farab (yang saat ini kita kenal sebagai kota Atrar), Turkistan pada tahun 257 H. Dan Allepo, ya kota yang saat ini sedang menjadi daerah para mujahid berperang melawan musuh-mush Allah SWT., pernah menjadi saksi bisu. Al Farabi berkenalan dengan Saif al-Daulah al-Hamdan, sultan dinasti Hamdan di Allepo. Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang sangat besar, tetapi Al-Farabi memilih hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Al-Farabi dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya secara sempurna dengan landasan dasar Al-Qur’an, sehingga filsuf yang datang sesudahnya, seperti Ibnu Sina dan Ibn Rusyd banyak mengambil dan mengupas sistem filsafatnya.

Dalam ilmu-ilmu filsafatnya, Al-Farabi  menyelaraskan dengan landasan Al-Qur’an yaitu, beberapa  filsafat yang pernah ada terutama pemikiran  dari Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Dalam menarik ilmu logika dan fisika, ia mengarah pada Aristoteles. Dalam ilmu politik, ia mengarah pada Plato. Sedangkan untuk ilmu matematika, ia mengarah pada Plotinus. Salah satu karya pemikiran Al Farabi yang sangat terkenal diilmu politiknya yaitu tertuang dalam buku al-madinah al-fadhilah(Negara Utama) yang memiliki arah pengaruh oleh Plato yang menyamakan Negara dengan tubuh manusia. Maksudnya sebagai beerikut: ada kepala, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang memiliki fungsi sendiri. Yang paling penting dalam tubuh manusia adalah kepala. Kepala merupakan pusat dalam melakukan segala perilaku sadar/tidak sadar. Sedangkan untuk mengontrol  kerja otak, hati menjadi penasihat pentingnya. Hal yang serupa juga dalam negara. Pemimpin/penguasa Menurut Al-Farabi merupakan kunci penting dalam Negara. Pemimpin harus orang yang lebih unggul baik dalam hal intelektual maupun akhlaknya dibandingkan dengan orang lain. Ia harus berkualitas baik kecerdasan, ingatan yang baik, pola pikiran yang tajam, berpengetahuan luas, jujur, kemurahan hati, sederhana, adil, keberanian, serta kesehatan jasmani dan cakaap berbicara.

Pemikiran Al-Farabi tentang kenegaraan terkesan ideal sebagaimana halnya konsepsi yang ditawarkan oleh Plato. Hal ini dimungkinkan, Al-Farabi tidak pernah memangku suatu jabatan pemerintahan, ia lebih menyenangi berkhalawat, menyendiri, sehingga ia tidak mempunyai peluang untuk belajar dari pengalaman dalam pengelolaan urusan kenegaraan. 

Amanah yang begitu penting dalam kehidupan sosial adalah amanah menjadi pemimpin, yang dalam tubuh manusia sama dengan kerja akal. Kepalalah sumber dari segala peraturan dan kebaikan dalam masyarakat. Tugas pemimpin, bukan hanya mengatur negara tetapi mendidik rakyatnya untuk memiliki akhlak baik. Lebih lanjut lagi al-Farabi memiliki gagasan yang terkenal, ia merinci macam-macam negara yang termasuk dalam “Negara Bodoh”, 

pertama, bisa berbentuk Al-Madinah adh-Dharuriyyah (negara kebutuhan dasar) yakni warga negaranya bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia. 

Kedua, adalah Al-Madinah an-Nadzalah (negara jahat), yaitu warga negaranya bekerja sama untuk meraih kejayaan dan kemakmuran berlebihan dan tak mau membelanjakannya kecuali untuk keperluan jasmani. 

ketiga yaitu  negara rendah atau Al-Madinah al-Khassah, dimana warganya hanya memburu kesenangan belaka dengan mementingkan hiburan dan hura-hura. 

keempat adalah Timokratik (negara kehormatan). Dimana, warga Negara ingin selalu mendapat penghormatan, puji, dan kesenangan di antara bangsa-bangsa lain. “Mereka ingin selalu diistimewakan. Bahkan, status seseorang itu ditentukan oleh kelebihan yang dimilikinya. Dan, Negara pun diatur berdasar tingkatan kelebihan mereka. 

kelima yakni Al-Madinah at-Taghalub (negara despotik). Bentuk negara ini, jelas Hafiz sangat buruk karena mereka ingin menguasai orang lain, dan mencegah orang berkuasa atas dirinya. “Oleh karena itu, mereka tak segan menumpahkan darah, memperbudak, dan berlaku kasar dan kejam. Bahkan, yang jadi pemimpin adalah orang yang paling bisa menguasai orang lain, paling kuat atau paling licik.

 terakhir negara bodoh versi Al Farabi adalah Al-Madinah al-Jama`iyyah (negara demokratik),  tujuan dari warga negara ini adalah kebebasan dan setiap warganya berhak dengan apa saja yang dikehendaki. “Meski bentuk negara terakhir ini masuk kategori bodoh, namun menurut Al Farabi justru negara ini paling terpuji di atara negara yang bodoh lainnya. *(1

            Negara demokratik atau demokrasi yang selama ini oleh kebanyakan orang dikategorikan sebagai sebaik-sebaiknya bentuk negara ternyata oleh al-Farabi dimasukkan ke dalam barisan “negara bodoh”urutan yang  terakhir. Ketika sistem demokrasi digembor-gemborkan sebagai suatu sistem dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat ternyata oleh sebagian pemikir-pemikir islam justru dipandang sebagai sistem yang sedikit bertentangan dengan islam.   

             Saya sendiri berpendapat, bahwa apa yang telah menjadi sistem pemerintahan saat ini di Nusantara ini masih sangat kacau. Masih sangat tidak jelas, masih sangat perlu dipertanyakan landasan dasar yang dipakai benar-benar dijalankan atau hanya bahan simbolis yang hanya dihafalkan yang katanya ”kaum terpelajar” ssaja. Kenyataanya, menyampaikan pendapat dipersempit,berekspresi didepan umum dibatasi, mengkoreksi apa yang tidak berada dalam jalannya koridor kemanusiaan dianggap menjatuhkan, dan meluruskan kebijakan yang menekan manusia-manusia yang ingin hidup lebih baik dipandang hanya untuk kepentingan golongan kita sendiri. Ingat, pemimpin itu sangat diperhitungkan timbangannya di akherat, merekalah yang paling lama dalam hisab, tapi kenapa mereka itu malah didunia bertingkah seperti hidup hanya di dunia yang fana ini? Mungkin mereka terbutakan dengan jabatan dan kehidupan saat ini. Mari kawan, terus ingatkan pemimpin kita, baik itu tingkat desa, kota, daerah, provinsi, negara, ataupun di lingkungan kampus kita ini. Jangan takut untuk berada di posisi yang benar meskipun sendiri, karena kekutan sendiri ini lebih besar dibanding mereka yang bersama-sama tapi tak membersamai Sang Maha Penguasa.

            Akhir tulisan ini, saya selaku penulis mengapa mengambil Al Farrabi menjadi sumber tulisan saya, karena pemimpin komisariat FE saat ini menyandang namanya. Semoga memang benar generasi saat ini adalah generasi kelak yang mencerahkan masa-masa kebatilan di pemerintahan yang ”rusak” ini. Dan akankah para tokoh-tokoh  muslim bisa  kembali memimpin perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban di modern sekarang ini?, jawabannya ada dalam diri kita sendiri, tokoh akhir zaman adalah kita, tokoh islam yang benar dan baik adalah kita, tokoh cendikiawan muslim adalah kita, tokoh pembangkit pemerintahan yang haq baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur adalah kita. Jadi jangan sampai semangat kita ini luntur diterpa angin metropolisme dan badai kapitalis.
Sumber: *(1al-madinah al-jahillah – negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan. Karya buku Al – Farabi
http://imm-feumy.blogspot.co.id/

SENI DALAM BERDAKWAH

Posted on

Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) mereka. Jika berbicara dalam suatu majelis yang dihadiri oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, jangan berkata, “Celakalah orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, nerakalah tempat mereka.” Ucapan semacam ini akan membangkitkan hawa orang yang durhaka tadi sehingga ia akan menentangnya. Akan tetapi hendaknya kita berkata, “Allah Ta’âla berfirman :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra, 17:23)
“Perhatikanlah, bagaimana Allah yang Maha Mulia memberikan wasiat kepada kita, bagaimana Ia menunjukkan kedudukan kedua orang tua. Orang tua memiliki hak dan kedudukan yang agung. Orang yang berbakti kepada keduanya akan memperoleh berbagai kebaikan. Nabi telah memperingatkan kita agar tidak durhaka kepada kedua orang tua. Beliau bersabda begini dan begini.” Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka akal dan nafs akan mendengarkan dan nafs tidak akan memberontak.
Dalam ucapan kaum sholihin dan guru-guru kita, banyak kita temukan ucapan-ucapan yang keras, tapi masyarakat menerimanya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang agung. Jika ucapan itu muncul dari orang lain, masyarakat tidak akan menerimanya dan akan menganggap terlalu berat untuk dilaksanakan. Namun, karena mereka yang mengucapkannya, maka masyarakat mau menerimanya.
Adapun orang-orang seperti kita ini, sebelum berbicara kita wajib memperhatikan dan menyederhanakan pesan yang akan kita sampaikan. Jika ada kata-kata yang sulit, hendaknya kita ganti dengan kata-kata yang mudah dipahami. Sebagai contoh, jika hendak mencegah seseorang dari memutuskan hubungan kekerabatan, jangan berkata, “Di majelis ini ada seseorang yang memutuskan hubungan kekerabatan.” Atau berkata, “Dewasa ini tidak seorang pun yang tidak memutuskan hubungan kekerabatan. Maka mereka semua terkena laknat.”
Meskipun ucapan ini mengandung kebenaran, tapi masyarakat tidak akan menerimanya. Kita tidak boleh berkata demikian, tetapi sebaiknya kita berkata, “Marilah kita perhatikan kerabat kita, marilah kita raih pahala lewat mereka, marilah kita usahakan agar hubungan kekerabatan menjadi sebuah nikmat. Jika kalian mau menundukkan nafs lalu menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka, maka kabar gembira bagi kalian, kalian akan memperoleh umur yang panjang dan rezeki melimpah. Sebab, Nabi saw bersabda :
“Silaturahmi memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kalian hendaknya menggunakan kalimat-kalimat seperti ini. Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka semua orang akan menerimanya. Ucapan kalian menjadi baik dan mudah diterima oleh nafs. Sebenarnya tujuan orang menyampaikan dakwah dengan keras adalah juga untuk menyeru manusia ke jalan Allah, tapi caranya tidak benar. Karena itulah Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad saw :
“Karena rahmat Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran, 3:159)

Oleh Karena itu perlunya kita menyesuaikan dengan siapa kita berbicara,dengan menyampaikan poin-poin dakwah yang utuh, namun dapat di terima seluruhnya
Dikutip dari  :Habib Umar Bin Hafumy

Oleh : (multatuli) imm fkik umy

http://immfkikumy2016.blogspot.co.id/

“Nikah dini?” (catatan diskusi IMM FH UMY)

Posted on


Sabtu, 19 november 2016, Bidang Immawati Komisariat Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan diskusi Pra Nikah dengan tema “Good Women Are For Good Men” (QS Annur : 26) yang disampaikan oleh Ustadzah Detty Shareh selaku pemateri. Diskusi tersebut dilakukan di sekre IMM FH UMY tepatnya pada pukul 16.00 sampai dengan 17.30.

Pemilihan tema tersebut dipilih karena pentingnya kesadaran perempuan saat masih menempuh pendidikan, agar memiliki bekal sejak dini. Baik bekal dari segi kesehatan jasmani dan rohani, maupun bekal ilmu yang diperdalam sebelum nantinya dipertemukan oleh jodohnya. Diskusi pra nikah ini juga dapat dijadikan langkah preventif agar penindasan terhadap perempuan ketika telah menikah seperti yang marak terjadi pada era ini dapat dicegah dan berkurang. Penindasan yang dimaksud disini ialah seperti adanya kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan suami kepada isterinya, dilarangnya perempuan yang telah menjadi seorang ibu dan isteri untuk bekerja di ranah publik, dll. Dengan diskusi ini, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran seorang perempuan terkait hak dan kewajibannya kelak sebagai seorang isteri dan ibu yang baik. 
Sebagaimana Allah telah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan, tetumbuhan, pepohonan, hewan, semua Allah ciptakan dalam keseimbangan & keserasian. Konkritnya lagi Allah menciptakan laki-laki dan perempuan yang nantinya akan menjadi pasangan di dunia. Untuk merealisasikan terjadinya kesatuan dari pasangan laki-laki dan perempuan tersebut agar menjadi sebuah hubungan yang benar-benar manusiawi maka Islam telah datang dengan membawa ajaran pernikahan. Sesuai dengan tema diskusi ini yaitu pra nikah, maka pemateri menyampaikan beberapa poin terkait persiapan pra nikah, antara lain: 

1. Persiapan spiritual/moral (Kematangan visi keislaman)

Firman Allah dalam Alqurâ’an bahwa wanita yang keji, adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….” (QS An-Nuur: 26).

2. Persiapan konsepsional (memahami konsep tentang lembaga pernikahan)

Pernikahan sebagai ajang untuk menambah ibadah & pahala : meningkatkan pahala dari Allah. Pernikahan juga sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan dienullah. Selain itu, pernikahan sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) dan ladang dakwah. 

3. Persiapan kepribadian

Seorang muslimah harus faham dan sadar betul bila menikah nanti akan ada seseorang yang baru kita kenal. Sebagai muslimah yang sudah terbiasa mandiri, maka pemahaman konsep kepemimpinan yang baik sesuai dengan syariat Islam akan menjadi modal dalam berinteraksi dengan suami.

4. Persiapan Fisik 

Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami ataupun isteri secara optimal. 

5. Persiapan Material

Bagi pihak wanita, adanya kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Insyallah bila suami berikhtiar untuk menafkahi maka Allah akan mencukupkan rizki kepadanya. Kemudian wanita juga diperbolehkan dalam agama untuk bekerja di ranah publik, tidak semata-mata hanya berada pada dunia domestik saja. Dengan syarat seorang wanita juga tidak mengabaikan kewajibannya sebagai seorang isteri dan ibu dalam sebuah rumah tangga. 

6. Persiapan Sosial

Setelah sepasang manusia menikah berarti status sosialnya dimasyarakatpun berubah. Sehingga mereka pun harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan di kedua belah pihak keluarga maupun di masyarakat. 

7. Persiapan ilmu 

Pentingnya memperdalam ilmu bagi seorang wanita nantinya akan bermanfaat ketika menjalani sebuah rumah tangga, seperti berguna ketika menjalani dunia pekerjaan, menyelesaikan masalah keluarganya, maupun dalam mendidik anaknya kelak, layaknya pepatah yang mengatakan bahwa “Ibu adalah madrasah bagi anaknya”
-BIDANG IMMAWATI IMM FH UMY 

Humanity

Posted on


Manungso;Human;An-nas menurut bahasa itulah nama jenis spesies makhluk ciptaan Tuhan yang katanya istimewa, sempurna dan best of the best. Dan ternyata itu adalah kita, kita menyebut diri kita dengan nama tersebut. Manusia, makhluk yang diciptakan oleh Sang Pencipta dengan segala kesempurnaannya, menciptanya dengan segala penataan dan desain yang sempurna, memiliki organ-organ yang lengkap dan bekerja sesuai fungsinya, memiliki mata untuk melihat, mulut untuk bicara, telinga untuk mendengar, tangan untuk bekerja dan kaki untuk bekerja, namun apakah hanya makhluk yang bernama manusia saja yang memilki kesempurnaan tersebut, kalau iya berati boleh kita menyamakan diri kita dengan makhluk bernama kera, karena kera juga memiliki mata, mulut, telinga tangan dan kaki, nyaris sama seperti kita, hanya saja mereka memiliki bulu yang lebat sekujur tubuh. Tokoh besar Buya Hamka pernah berkata bahwa “kalau hidup hanya sekedar hidup, kera di rimba pun juga hidup ”, dengan perkataan buya itu apakah kita sudah bisa peka dengan posisi kita sebagai makhluq yang bisa dikatakan bernama manungso, lantas apa yang membedakan manusia dengan mahkluk lain? 

Allah telah berfirman dalam Q.S At-tin: 4 yang artinya “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”. Manusia memang sangat beruntung telah diciptakan dengan segala bentuk kesempurnaanya, mungkin sebagian ada yang tertawa sombong karna telah diciptakan dan mendapat predikat sebagai makhluq yang best of the best. Yang menjadi pertanyaan apakah kita sudah menyadari bahwa kita itu best of the best, dan bagi yang sudah sadar apakah mereka bisa memanfaatkan predikat terbaik itu, dan satu lagi apakah bagi mereka yang sudah bisa memanfaatkan karunia tersebut bisa menjaga tingkah maupun sikapnya. Sebegitu rumit dan beratnya hidup menjadi manusia bahkan mungkin jika ada dalam benak seekor kera berkata “duh, susahnya hidup menjadi seorang manusia ya, untung aku hanya seekor kera”.

KBBI mengartikan bahwa kemanusiaan itu ; /ke·ma·nu·si·a·an/ n 1 sifat-sifat manusia; 2 secara manusia; sebagai manusia: perasaan – kita senantiasa mencegah kita melakukan tindakan terkutuk itu. Dari kata kunci tersebut dapat diartikan bahwa bisa disebut kemanusiaan bila memilki sifat-sifat layaknya manusia atau secara manusia atau sebagai manusia, sedangkan arti dari manusia sendiri menurut KBBI  diartikan sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Jadi dapat disimpulkan secara umum bahwa manusia bisa disebut kemanusiaan bila memilki sifat-sifat manusia yakni memilki akal budi, dan secara tidak langsung kata kemanusiaan tidak berlaku bagi manusia yang tidak miliki akal budi. Lalu apa kalau manusia tidak disebut manusia, padahal di alam semesta ini sang khaliq banyak menciptakan sesuatu yang tidak berakal budi, seperti hewan, tumbuhan dll. Jadi tidak ada salahnya jika manusia yang tidak memilki akal budi disetarakan seperti makhluq tersebut. Akal budi erat kaitanya dengan kecerdasan yang timbul didasari karena dia mau mikirkan, mempelajari, membahas, mengingat, mengerti, mengenal, dan mengetahui tentang nilai dan norma yang berlaku dikehidupan manusia. 

Bicara soal kemanusiaan Indonesia juga memiliki ideologi kemanusiaan, didalam pancasila sila ke-2 berbunyi “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung pengertian adanya kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya ( sesuai Pancasila pada sila ke-2 ). Potensi kemanusiaan dimiliki oleh semua manusia di dunia, tanpa memandang ras, keturunan dan warna kulit, serta bersifat universal. 

Berhubungan dengan pancasila ke-2 Indonesia diawal kelahiran sampai sekarang tidak pernah lepas dengan masalah keberbedaan, contoh saja Indonesia sekarang ini sedang ramai dilanda masalah SARA oleh Gubernur DKI Basuki Thahaja Purnama alias Ahok dengan kasusnya yaitu dugaan penistaan agama. Disitu indonesia benar-benar sedang diuji permasalahan kemanusiaannya, karena kasus itu muncul dan semakin berkecamuk selain karena perkataan Pak Ahok yang dianggap terlalu keplantrang dan menghina umat islam namun secara tidak langsung juga disebabkan oleh pandangan perbedaan ras maupun agama. Disitu masyarakat dapat belajar arti sebenarnya kemanusiaan. Bagi mereka yang dapat menahan diri dan dapat mempergunakan akal budinya untuk menghadapi problem  tersebut maka mereka layak dan pantas disebut manusia dan juga dianggap telah  memilki sikap ber-kemanusiaan. Karena jika tidak mungkin pertumpahan, perpecahan dan bahkan perang saudara bisa terjadi di NKRI ini, tapi beruntungnya manusia pribumi masih bisa menggunakan akal sehat mereka  sehingga sifat kemanusiaan yang sedikit adil dan agak beradab masih tertancap di otak mereka. 

Bersyukur manusia pribumi masih diberi kehidupan yang damai dan tenang, jika kita melihat lebih luas keluar maka permasalahan kemanusiaan ini sungguh banyak terjadi. Kita lihat saja muslim rohingya yang saat ini sedang menghadapi permalahan kemanusiaan. Begitu banyak air mata mengalir menangis meminta keadilan disana, begitu banyak darah mengucur disana karena hilangnya keberadaban nilai-nilai dan norma manusia. Konflik di Myanmar hanya satu dari sekian puluh masalah kemanusiaan yang terjadi, masalah ini banyak terjadi diluar sana dan rata-rata dihadapi oleh umat islam. Jika kita lihat konflik-konflik kemanusiaan itu, mungkin para mereka pemegang tirani kekuasaan sudah kehilangan akal budi kemanusiaan. Para penguasa tidak bisa berlaku memanusiakan manusia, ego dengan ras mereka, suku mereka, dan juga keyakinan mereka. Akal yang menjadi inti dari bagian pelengkap kesempurnaan manusia mungkin telah hilang dari diri mereka, dengan demikian apakah mereka masih pantas disebut ke-manungso-an, kesetanan mungkin lebih cocok.

Kalau kata Pak Gus Dur itu “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan, karena kemanusiaan merupakan puncak dari persaudaraan yang akan memperkokoh persatuan kebangsaan dan persaudaraan”. Manusia hidup itu untuk menjadi manusia bukan yang lain, karena hanya manusia lah satu-satunya makhluk yang mempunyai hati, pikiran dan akal budi. Orang jawa bilang “urip mu koyo wit gedhang, duwe jantung tapi ora duwe ati” ibarat pohon pisang, dia punya jantung tapi tidak punya perasaan.

Name : Agung Nur Prabowo 26 november 2016 

 Commissariat : Agriculture

Sosial agama yang mulai tersisih

Posted on


Dalam sifat manusia terdapat suatu nilai yaitu rasa empati kepada sesuatu hal itu menjadi landasan kita berpifikir dan bergerak , rasa empati ini hanya berlaku kepada sesama manusia  yang hakekatnya hanya ada 2. Pertama rasa empati kepada sesama karena ada ketidakadilan dan penindasan. Kedua rasa empati kepada “dia” yang telah melakukan seuatu hal diluar batas wajar pandangan umum masyarakat, rasa ini di sebut “SOSIAL”.

Semakin berkembangnya zaman, nilai ini hanya menjadi sebuah simbol yang sekarang dapat kita lihat dimedia sosial, yang berbentuk hati dimana jika kita sentuh maka akan berubah menjadi merah. Inilah bentuk rasa empati manusia di zaman sekarang ini. Sangat miris dan dapat di golongkan sebagai perwakilan nilai sosial tiap individu. Mari kita angkat kasus A*OK, dimana dari kasus ini banyak menarik rasa empati puluhan, ratusan, ribuan dan bahkan jutaan umat muslim dari penjuru lndonesia datang  ke Jakarta untuk ikut serta dalam aksi damai 411. Dimana isu yang dibawah oleh MUI adalah sebuah penistaan yang telah dilakukan oleh A*OK. Kebenaran ini terbukti dengan sekarang statusnnya menajadi tersangka ,walaupun ia tidak ditahan dalam lapas (lembaga pemasyarakatan).

Dalam aksi damai 411 kemarin yang katanya aksi damai. Manusia beragama hanya sebagai basis masa dalam berpolitik demi mencapai suatu tujuan yang lebih besar. Sungguh agama sudah tidak dipandang lagi, kerena politik menjadi salah satu kebutuhan dizaman sekarang. Inilah nilai sosial atau rasa empati yang membakar jutaan umat muslim untuk meminta keadilan ketika 1 ayat saja dilecehkan. Sebagai umat beragama memang perlu adanya tindakan, namun mari kita bertanya “sampai mana rasa empati mu membakar jika yang dibunuh adalah saudara sesama agama? “  sampai dimana kawan ?

Aung San Suu Kyi yang merupakan pimpinan dari faksi politik berkuasa di Myanmar dan juga peraih Hadiah Nobel Perdamaian ini telah dituduh melakukan legitimasi genosida terhadap komunitas Muslim Rohingya di Rakhine. Hal ini dikarenakan Suu Kyi yang pada saat ini mempunyai kekuasaan masih bersikap acuh terhadap penderitaan yang dialami oleh Komunitas Muslim Rohingya.

Tuduhan tersebut telah disampaikan oleh aktivis Hak Asasi Manusia  yang bernama David Mathieson dari Human Rights Watch atau HRW. Tuduhan ini telah muncul setelah PBB menyatakan bahwa Myanmar telah melakukan pembersihan etnis Rohingya (sumber : http://indowarta.com/).

Sungguh ini bukan masalah 1 ayat lagi, akan tetapi sudah menjadi masalah satu agama. Apakah rasa empati hanya berupa gambar “love” dan ketika di sentuh akan berubah merah dan kita merasa sudah ikut terlibat membantu mereka yang tertindas. Kini meraka tidak punya tempat untuk menempelkan kepala ke tanah hanya untuk sholat. Inilah yang seharusnya membakar nilai sosial kalian yang katanya umat beragama. Jika 1 ayat  ini hanya sebuah pengalihan isu demi membinasakan 1 kaum yang konteksnya masih dalam 1 agama, apakah kamu tidak merasa terbodohi sebagai umat islam?

Sebagaimana statement Muhammadiyah tentang kasus Rohingya ini  “Kami memahami, kami percaya dan kami mendukung langkah-langkah pemerintah melalui kementerian Luar Negeri yang telah mengambil usaha-usaha yang serius, tegas dan melalui jalur diplomasi dan politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi patokan untuk ikut menyelesaikan dan mencari di Rakhine State,” ujar Haedar.

Haedar (Ketua Umum PP Muhammadiyah) mengajak umat Islam untuk juga ikut mendukung langkah-langkah pemerintah dalam hal ini terhadap apa yang telah dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri.

“Kami sebagai representasi organisasi Islam yang juga selama ini mempunyai peran di luar negeri bersama pemerintah mengajak kepada seluruh umat Islam untuk ikut mendukung langkah-langkah pemerintah terhadap apa yang terjadi di Rakhine State, Myanmar,” ujar Haedar.

Di akhir penyampaiannya, Haedar yakin bahwa akan selalu ada jalan keluar terhadap masalah yang sedang terjadi di Myanmar. “Kami percaya bahwa selalu ada pintu dan jalan keluar untuk masalah-masalah yang sering terjadi di banyak kawasan,” ungkap Haedar.
Tulisan dapat dilihat juga di:

https://catatanmerah.wordpress.com/2016/11/19/empati-bukan-like-dan-comment/

Organisasi Mahasiswa dan Gerakan Literasi

Posted on Updated on

Organisasi Mahasiswa dan Gerakan Literasi[1]

oleh: Muhammad Hanif

Ketika ditanya, apa makna atau arti menjadi mahasiswa? Pasti sebagian besar dari kita (mahasiswa itu sendiri) menyatakan mantra lama Organisasi Mahasiswa : ‘Mahasiswa adalah Agent of Change’. Namun ketika ditanya apa yang sebenarnya kita maksud dengan Agent of Change tersebut maka kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, dari yang mengartikanya sebagai turun ke jalan sampai yang mengartikanya dengan melakukan pemberdayaan-pemberdayaan di kalangan masyarakat menengah bawah.

Namun ketika kita melihat sejarah, sebenarnya ada satu ranah perjuangan yang seringkali kita lupakan, yaitu gerakan literasi. Gerakan literasi bermakna melakukan penggiatan membaca, menulis, dan berdiskusi dalam tubuh Organisasi Mahasiswa itu sendiri. Kalau mau melihat sejarah, awal perjuangan selalu dimulai dengan literasi. Contoh seorang Tirto Adhi Suryo[2], yang mendirikan Sarekat Prijaji 4 tahun lebih awal dari berdirinya Boedi Oetomo. Beliau melakukan perjuanganya melalui surat kabar melayu pertama yang diberi nama Medan Prijaji, surat kabar itulah kemudian yang menjadi awal munculnya kesadaran-kesadaran akan pentingnya pergerakan dan persatuan nasional yang diikuti dengan lahirnya satuan-satuan perjuangan dan gerakan. PNI pun, baik yang didirikan oleh Soekarno ataupun PNI versi Mohammad Hatta keduanya memiliki media surat kabar sebagai alat perjuangan. Masih banyak contoh-contoh lain, seperti misal seorang Soe Hok Gie yang melakukan gerakan literasi di tataran kampus. Gerakan-gerakan tersebut diatas jarang sekali dibicarakan ketika kita membicarakan sejarah, karena memang gerakan literasi tidak pernah disertai dengan gemerlap keriuhan. Jika kita refleksikan sejarah tersebut ke dunia Organisasi Mahasiswa dewasa ini, kita akan melihat perbedaan yang sangat mencolok: lemahnya Organisasi Mahasiswa sekarang dalam hal literasi.

Pentingnya Gerakan Literasi di Organisasi Mahasiswa

Gerakan literasi di kalangan mahasiswa memiliki beberapa urgensi. Pertama, mungkin sebagian kita sudah mengenal apa itu media alternatif. Media alternatif adalah media yang isi kajian maupun pemberitaanya berani melawan arus media mainstream yang sudah terlalu politis. Lihatlah siapa pemilik-pemilik media mainstream yang hampir semuanya bisa kita petakan afiliasi politiknya. Maka dari itu munculah sekarang media-media alternatif yang mencoba independen dari situasi politik. Keterlibatan Organisasi Mahasiswa saya rasa masih sangat kurang. Karena justru yang muncul dalam media-media Organisasi Mahasiswa dewasa ini hanyalah foto-foto groupie ataupun foto event yang disertai caption-caption yang kekinian. Kedua, gerakan literasi ini juga diperlukan sebagai basis gerak, baik basis landasan filosofis maupun metodologis. Misal dalam hal landasan metodologis yang belum banyak disentuh oleh Organisasi Mahasiswa dewasa ini adalah riset. Banyak manfaat yang akan didapat ketika Organisasi Mahasiswa mampu menyentuh ranah riset. Karena dengan gerak yang didasari riset Organisasi Mahasiswa akan lebih mungkin untuk melakukan perjuangan-perjuangan di ranah konstitusi seperti misalnya jihad konstitusi yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Selain juga tetap melakukan gerakan penyadaran di level masyarakat.

Ketiga, dalam Organisasi Mahasiswa tentu perlu adanya keberlanjutan ide dan gagasan. Nilai yang  dibangun hari ini tentulah perlu untuk dilanjutkan perjuanganya oleh generasi-generasi setelahnya. Namun dalam rentang waktu yang cenderung sedikit di dalam organisasi, salah satu cara agar gagasan-gagasan sebuah periode kepemimpinan mampu dilanjutkan oleh generasi selanjutnya adalah dengan menuliskanya secara sistematis.

Keempat, Tentu Organisasi Mahasiswa perlu melakukan penyadaran kepada masyarakat tentang gerakan yang sedang dibawa dan perjuangkan. Karena tanpa adanya dukungan dari masyarakat luas tentulah gerakan tersebut hanya akan berjuang sendiri. Di tengah masyarakat yang mulai naik tingkat pendidikanya seperti sekarang, cara-cara penyadaran melalui propaganda seperti era-era perjuangan 1945 tentulah tidak cukup. Namun Organisasi Mahasiswa perlu melakukan penyadaran melalui Gerakan Literasi yang tertata rapi selain juga menyasar ranah-ranah yang belum tersentuh seeperti riset.

Menyatukan Keberagaman Bidang Studi untuk Mencipta Media Bersama, Mungkinkah?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Ar. Fakhruddin adalah sebuah Organisasi Mahasiswa di level kota dengan bidang studi basis massa nya yang sangat beragam. Tiap tiap komisariat memiliki basis bidang studi nya masing-masing dan banyak yang juga telah mengimplementasikanya melalui media-media yang dimiliki masing-masing komisariat. Namun saat ini media-media tersebut masih berjalan masing-masing sehingga belum adanya gerakan media yang utuh dikarenakan beberapa hal , salah satunya adalah belum meratanya semangat literasi dari tiap tiap komisariat. Padahal, Jika dapat disatukan maka akan mampu menciptakan media dengan gerak yang masif dan diwarnai dengan pisau analisis yang beragam dalam mengkaji tiap isu nya.

Pola yang dibangun dalam gerakan media ini dimulai dengan menentukan sebuah isu yang akan dibahas bersama yang kemudian di analisis dan di bahas di masing-masing komisariat. Hasil analisis di tiap komisariat tersebut kemudian akan dikaji bersama dan disatukan. Dengan pola yang seperti ini, masing-masing komisariat diharapkan mampu mengimplementasikan gerakan literasi tanpa meninggalkan bidang studinya. Tentu pola kajian yang dilakukan meski menggunakan pisau analisis masing-masing bidang studi tetap tidak meninggalkan keberpihakan kepada masyarakat. Ilmu-ilmu sesuai bidang studi dijadikan salah satu dasar untuk menganalisis namun bukan kemudian dijadikan sebagai satu-satunya dasar analisis.  Dengan demikian, diharapkan luaran media tersebut (katakanlah sebuah media online ataupun media cetak) tiap edisi atau luaranya berisikan sebuah kajian isu yang dibedah dengan pandangan yang beragam.

Penutup

Salah satu cabang penting dari gerakan literasi adalah menulis. Bagi mahasiswa terutama di komisariat-komisarat dengan ranah eksakta, banyak yang beranggapan bahwa menulis itu tidak penting. Dalam studi kita yang dipenuhi oleh praktik dan paradigma profesionalisme, seringkali yang diajarkan pada kita adalah yang penting kita memiliki skill teknis untuk melakukan pekerjaan kita.

Namun ada beberapa urgensi bagi kita untuk mulai menulis. Dari segi profesionalisme, ketika kita tidak mau atau enggan terlibat dalam dunia kepenulisan. Maka justru orang-orang yang tidak benar-benar memahami bidang studi kita yang akan menuliskan pendapatnya dan terkadang justru pendapat mereka yang akan menjadi pandangan umum.

Dan pada akhirnya, menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Kita bisa mengenal Plato, Aristoteles dan filsuf lainya yang hidup ribuan tahun lalu karena mereka menuliskan gagasanya. Menulislah, karena dengan menulis, kita akan selalu hidup.

Jayalah Literasi!

 


[1]     Disampaikan di acara Latihan Kepenulisan PK IMM Universitas Aisyiah

[2]     Tirto Adhi Soeryo Biografi dan Perananya dapat dibaca di Novel Tetralogi Buru karya Pramoedya Anaanta Toer