Pimpinan Komisariat IMM FPB UMY 2016/2017 Telah Sah Dilantik

Posted on Updated on

Sabtu, 20/08/2016 bertempat di Gedung AR Fakhruddin lt. 5 UMY, Pimpinan Cabang  IMM AR Fakhruddin Yogyakarta melantik pengurus baru,  Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta periode 2016/2017. Ini merupakan pimpinan generasi ke empat.

Pimpinan Komisariat FPB UMY merupakan komisariat termuda yang ada di PC IMM AR  Fakhruddin Yogyakarta, pada tahun 2012 IMM FPB UMY di mekarkan dari IMM Fisipol UMY, karena pada tahun itu UMY mendirikan Fakultas Pendidikan Bahasa yang sebelumnya tergabung sebagai salah satu jurusan yang ada di Fakultas Isipol.

Perihal usia yang relatif muda ini ketua Umum yang baru IMMawan Adam Al Hakim dalam sambutan pengangkatannya menyadari ada begitu banyak pekerjaan rumah yang musti di lakukan oleh pimpinan periode ini, baik masalah internal maupun masalah eksternal, oleh sebab itu IMMawan Adam Al Hakim mengharapkan sokongan dari seluruh kader IMM Komisariat FPB UMY dan juga para pimpinan komisariat lainnya yang ada di naungan PC IMM AR Fakhruddin dalam mengawal IMM FPB UMY untuk menghadirkan atau memajukan IMM FPB UMY yang lebih progresif.

Sementara IMMawan Joko Lukito selaku mantan ketua umum tidak begitu banyak berpesan, beliau hanya mengharapkan agar seluruh kader yang sekarang ada di struktural IMM FPB UMY berusaha memberikan yang terbaik, kurangi mengeluh, dan menekankan pentingnya bekerja sama sesama anggota.

Tak beda jauh berbeda dengan harapan ketua umum IMM FPB UMY yang baru, ketua umum PC AR Fakhruddin IMMawan Ahmad Akbar juga berpesan, “meskipun PK IMM FPB UMY tergolong muda, pimpinan komsat IMM FPB UMY tak perlu minder dengan komsat-komsat yang lainnya, tetap optimis dan lakukan yang terbaik”.

IMMawan Ahmad Akbar juga menekankan pentinganya membuat database kader, mengingat IMM FPB UMY ini belum lama berdiri kiranya membuat data kader sejak periode awal tentu tidak begitu sulit.

Di akhir pesannya IMMawan Ahmad Akbar mengharapkan ada kader dari IMM FPB UMY yang dapat melanjutkan proses perkaderan ke jenjang selanjutnya yaitu Darum Aqram Madya (DAM), karena sejak awal terbentuk IMM FPB UMY belum ada kader IMM FPB UMY yang mengikuti DAM, hal ini penting di tindak lanjutin demi kelancaran proses perkaderan yang ada di komsat IMM FPB UMY. (Suryatman)

Ketua AJI Jogja: Kasus Udin Belum Kadaluarsa

Posted on Updated on

Jogja- Anang Zakaria, ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) regional Yogyakarta mengungkapkan bahwa hari ini kami ingin memperingati 20 tahun yang lalu, ada seorang jurnalis bernama Muhammad Fuad Syarifudin atau akrab disapa Udin, wafat di RS Bethesda, usai tiga hari sebelumnya dianiyaya oleh orang yang tak dikenal. 

“Kami sering  mendapat banyak pertanyaan, kenapa AJI, masyarakat, seniman, dan beberapa LSM, setiap tahun tidak lelah memperingati kematian wartawan Udin” ujar Anang dalam orasi budayanya kepada para massa aksi peringatan 20 tahun kematian Udin, di seberang Tugu Jogja, Selasa (16/8).

Anang menuturkan, gerakan yang mereka perjuangkan sejauh ini, salah satunya terinspirasi dari  ucapan novelis mashyur Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

“Dari gerakan seperti ini, kita bisa melihat sebuah peringatan, tujuannya untuk mengingat, karena ingatan hadir agar di kemudian hari, tidak ada lagi kasus-kasus serupa yg terjadi,” tambah Anang.

Selanjutnya Anang menegaskan, “Hari ini, kasus ini bukan milik jurnalis saja. Namun, para wartawan, akademisi, dan masyarakat sipil datang berbondong-bondong untuk melakukan aksi bersama. Terima kasih, sudah menjadikan ini sebagai isu kebebasan berekspresi dan berpendapat, karena itulah hak warga negara”.

Anang juga menyinggung kondisi demokrasi di Jogja hari ini yang baginya tengah amburadul. Misalnya kritis dianggap komunis, dan masih banyak tuduhan-tuduhan stereotip. 

“Hari ini kami menegaskan kembali , bahwa kami ingin bebas berekspresi,” kata Anang.
Usai acara, kami sempat mewawancarai Anang, terkait sejauh mana perkembangan kasus Udin.”Kasusnya belum kadaluarsa, karena polisi belum menetapkan tersangka. Tersangka yg dahulu adalah hasil rekayasa. Nah, bukti -bukti yang lama itu belum ditindaklanjuti polisi. Dalam proses penangkapan Iwik dahulu, ia dijanjikan mengaku untuk kepentingan orang nomor satu di Bantul. Pengakuan ini terungkap dalam sidang Iwik. Ini salah satu celah yang bisa ditindaklanjuti polisi. Siapa orang nomor satu di Bantul itu?,” jawab Anang

“Mengapa dulu Edy Wuryanto melakukan rekayasa? Siapa yang menyuruh. Sebetulnya masih banyak hal yg bisa didalami polisi kalau mereka mau bertindak sebagai aparat kepolisian yang benar dan mau bertindak adil,” Anang menambahkan.

Kemudian perihal aksi apa saja yang dilakukan untuk merawat ingatan kasus Udin di luar aksi tiap 16 Agustus seperti ini. “Gerakan model seminar, agar masyarakat peduli terhadap kasus kita,” tutup Anang. (Fathi Djunaedy dan Fitri Lestari)

Ahmad Akbar: Perlunya Formulasi Untuk Merespons Hadirnya Banyak Fakultas Baru

Posted on Updated on

Ahmad Akbar, ketua PC IMM AR Fakhruddin Jogjakart, mengucapkan selamat kepada para pengurus baru Pimpinan Komisariat Universitas Aisyiyah (UNISA) Jogjakarta periode 2016/2017. Semoga apa yang dicita-citakan terwujud, menghadirkan organisasi ideal, yang sesuai dengan tujuan IMM.

Akbar mengatakan, ada hal baru pada periode kali ini, karena dulu masih bernama STIKES.  Hanya terdapat beberapa fakultas. Ketika berubah menjadi UNISA, muncullah beberapa tantangan, salah satunya dengan hadir banyak fakultas.

“Periode kali ini harus mampu membuat formulasi untuk menanggapi munculnya banyak fakultas.  Beradaptasilah dengan pelan-pelan.Tidak usah terburu-buru, nikmati saja proses berorganisasi,” ujar Akbar kepada para audiens Pelantikan PK IMM UNISA 2016/2017, di Gedung A lantai 4 kampus UNISA, Senin (15/8).

Menurut Akbar, IMM UNISA harus mampu membaca momentum. Membangun komunikasi yang baik dengan pihak kampus, HMJ, dan organisasi intra lainnya. Supaya gerakan IMM bisa dirasakan semua pihak, bukan internal IMM saja.

“Itu yang perlu dipikirkan, ada komunikasi yang intens, juga perlu gerakan bersama,” lanjut Akbar.

Akbar berpesan untuk periode sebelumnya. “Tetap melanjutkan proses perkaderan yg ada di IMM, jika kemarin sudah DAD, selanjutnya naik level mengikuti DAM. Semoga bisa melanjutkan ke tampuk pimpinan selanjutnya.

“Pesan terakhir untuk semuanya, terinspirasi dari QS Al Baqoroh ayat 286, bahwa Allah SWT tidak membebani suatu kaum, di luar batas kemampuan kaum tersebut. Untuk itu, jangan pernah takut dan menyerah,” tutup Akbar. (Fathi)

Art Jog 9, Gelaran Seni yang Kontraproduktif

Posted on

13494847_1207993505880486_1798623134020716448_n

(16/06) Art Jog edisi ke sembilan, yang diselenggarakan tahun 2016 ini mengambil tema tentang kemanusiaan. Namun hal tersebut dikecam oleh beberapa elemen masyarakat  yang tergabung dalam “AliansiBoikotArtjog”. Menurut mereka hal tersebut kontraproduktif sebab Artjog 9 telah menggandeng PT. Freeport Indonesia. Seperti apa yang tertera dalam pressrilis Aliansi Boikot Artjog 9.

“Kami tidak anti atau menolak kegiatan seni apapun. Kami menolak seni yang tak berperikemanusiaan. Dan bahwa pagelaran seni Art Jog dengan mengusung tema kemanusiaan adalah kesalahan fatal karena itu kontraproduktif dengan realita yang ada,” itulah penggalan point satu dalam Pressrilis.

Ahmad Fadli, selaku Humas dalam Aliansi Boikot Artjog memaparkan apa yang menjadi kegelisahannnya dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi tersebut .Sebenarnya Aliansi yang tergabung dalam Aliansi tidak alergit erhadap Artjog namun yang jadi persoalan adalah munculnya PT. Freeport sebagai sponsorship. Dia memaparkan juga bahwa, sebelumnya dia danteman-temannya sering hadir di acaraArtjog “PT. freepot yang menjadi sponsorship dari kegiatan art jog, ini yang kita pertanyakan” jelasnya saat diwawancarai.

PT Freeport merupakan perusahaan yang eksploitatif.Fadli mempertayakan bagaimana pagelaran seni yang berbicara tentang kemanusiaan malah menggandeng perusahaan yang eksploitatif seperti PT. Freeport Indonesia “Ini kan temanya seni kemanusiaan sementara sponsorsip itu kan banyak sekali melakukan diskriminasi, intimidasi serta pembunuhan di Papua”

Aliansi menilai bahwa adanya PT. Freeport dalam pagelaran Artjog 9 menimbulkan banyak kekisruhan yang terjadi di dalam pagelaran Artjog itu sendiri. Mereka menghimbau kepada panitia agar bertanggung jawab atas kekisruhantersebut.

Selain mempertegas sikap, Aliansij uga menuntut pada panitia artjog untuk memutuskan kontrak dengan PT. Freeport Indonesia, Menolak kontrak PT. Freeport pada aktifitas kesenian di wilayah seluruh Indonesia, meminta ketua panitia Artjog 2016 Hari Pemad untuk mengembalikan uang PT. Freeport Indonesia, dan, menghimbau pada para penyelenggara kegiatan seni dan sekalian seniman untuk tidak bekerjasama dengan PT. Freeport dan perusahaan hitam lainnya. [Elki]

Charris Zubair:  Lahirnya Pancasila Tidak lepas dari Islam dan Muhammadiyah

Posted on Updated on

20130708a-1
Photo by: arsip.tembi.net

Budayawan sekaligus ilmuwan Achmad Charis Zubair,  mengungkapkan bahwa nilai Islam dalam pancasila itu , ibarat rasa manis, yang diberikan gula pada air. Bukan pada bentuk gulanya, apalagi merk gelasnya. Tak dapat dipungkiri bahwa proses lahirnya pancasila sampai ditetapkan dalam pembukaan UUD tidak dapat lepas dari Islam, pun juga Muhammadiyah, terbukti banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah yang berperan didalamnya, yakni Ki Bagus Hadikusumo dan Mr Kasman Singodimejo.

“Nilai Islam terekspresikan dalam gagasan, kristalisasi nilai, pikiran tokoh, hingga di dalam   cara menyelesaikan solusi. Melalu proses musyawarah,” ujar beliau kepada para hadirin pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Gedung AR Fakhruddin B UMY, Kamis (9/6)

Beliau menambahkan, “Kandungan nilai pancasila, mengandung tiga nilai universal utama. Siapapun, sesungguhnya mendukung nilai ini. Ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Nilai universal utama dalam hidup berbangsa dan bernegara yakni nasionalisme dan kedaulatan di tangan rakyat,” ujar beliau.

Menurut beliau, kita harus mampu membedakan antara apa yg menjadi keinginan dan realitas. Sebuah ideologi sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun perlu dilihat  ujiannya sejauh mana. Dimensi idealitas, sejauh mana ia mengandung nilai-nilai yg universal, sejak benih Pancasila ditanamkan, posisi Muhammad Yamin cukup penting, kristalisasi yang dibangun oleh Bung Karno, dan apa yang ditulis panitia, itu mata rantai yg sangat penting. Para pendiri negeri ini, tidak hanya pintar, tetapi waskito, kemampuan untuk melihat masa depan.

“Saya melihat, penghapusan tujuh kata, declaration of  of independet dalam Piagam Jakarta, tak hanya sebatas pada langkah politik. Itu bagian dari campur tangan Allah SWT dalam kehidupan berbangsa kita ini. Sebuah perjalanan sejarah kemanusiaan, semata-mata dilakukan dengan langkah-langkah manusia. Ada campur tangan tuhan, ini menjadi misteri dalam kehidupan,” tutup beliau (Fathi)

Menafsirkan Trilogi IMM Sebagai Basis Pengkaderan

Posted on

Oleh: Muhammad Kholil
Anggota Bidang Hikmah, PK IMM FE UMY 2015-2016

Tulisan sederhana ini bermaksud memberikan gambaran bagaimana saharusnya menjadi kader IMM ideal. Dalam hal ini, tulisan yang penulis ajukan merupakan penafsiran dari trilogi IMM sebagaimana judul diatas dalam kapasitasnya sebagai basis proses pengkaderan. Trilogi IMM tersebut penulis jabarkan sebagai tangga proses pengkaderan yang harus dilalui dari tahap ketahap. Berangkat dari tangga proses pengkaderan tersebut, kader IMM ideal adalah seorang pionir tajdid. Secara umum dapat dilihat dalam bagan di bawah ini.

PicsArt_1463365258518

Religiusitas

Pada tangga I (1, 2 dan 3) penulis mengkategorikan sebagai tangga yang dalam kapasitasnya sebagai identitas atau jati diri kader IMM. Maka segala aspek, terutama corak keilmuan kader harus merepresentasikan dari identitas dirinya itu. Dalam membentuk identitas tersebut, pertama-tama harus diperkokoh fundamentalisme ke-Islaman, kemudian internalisasi nilai-nilai ke-Muhammadiyahan, dan penyempurnaannya adalah dengan kulturisasi ke-IMM-an. Ketiga hal tersebut secara mendasar dapat dibedakan dengan jelas, akan tetapi secara struktur tidak dapat dipisahkan. Ketiganya merupakan kesatuan utuh dalam membentuk karakter dan corak identitas kader IMM yang ideal, yaitu sebagai pionir tajdid.

1. Fundamentalisme Islam

Apabila kita bercermin pada Anggaran Dasar (AD) IMM BAB II tentang Asas Gerakan dan Lambang (pasal 4), menyebut bahwa “Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berazas Islam”. Berdasarkan hal tersebut, (dalam konteks ini) berarti Islam telah menjadi darah daging dalam diri IMM. Maka sudah barang tentu kader IMM yang ideal harus menjunjung tinggi azas gerakan IMM tersebut. Di sisi lain, sebagai salah satu lembaga dakwah Muhammadiyah, IMM tentu harus mampu mentransformasikan nilai-nilai Islam kepada mahasiswa khususnya dan masyarakat umumnya. Dengan kata lain, kader IMM harus merepresentasikan diri sebagai kader umat yang dalam eksistensinya sebagai suri tauladan.

Tentu mudah dipahami mengapa penulis menempatkan “fundamentalisme islam” pada tangga pertama dalam bagan tersebut. Jawaban yang paling mendasar ialah agar Islam menjadi tumpuan utama dalam segala aspek hidup dan kehidupan setiap kader IMM. Dalam hal ini, Islam menjadi falsafah, idiologi dan semangat perjuangan yang harus dipegang teguh. Terlepas dari itu, tidak dapat disangkal bahwa Islam merupakan kontruksi fondasi seorang muslim dalam menjalani setiap drama kosmos. Maka sudah seharusnya dalam proses pengkaderan IMM, memastikan terlebih dahulu bahwa fondasi tersebut telah terbangun secara kokoh. Terlepas dari itu, sejauh ini fundamentalisme Islam tentu relevan dengan azas yang dianut oleh IMM itu sendiri.

Berdasarkan uraian diatas, maka cukup beralasan mengapa fundamentalisme Islam harus dijadikan sebagai pijakan utama dalam merangkai karakter kader IMM. Secara sederhana penekanan dalam penanaman fundamentalisme Islam dapat dilihat dalam tabel berikut:

 Aspek  dan Orientasi

1. Tauhid dan sumber hukum Islam
– Berperilaku sesuai tuntunan Islam (Al-Quran, As-sunah, Ijma, Qiyas);
– Tauladan bagi sesama kader dan umat.

2. Memahami hakikat Islam
– Memahami kaidah-kaidah dan aqidah Islam;
– Menjadikan islam sebagai pegangan hidup.

3. Mengkaji ilmu Islam (aspek pendukung)
– Mempu menjabarkan periodesasi perkembangan islam;
– Memahami perbedaan mashab islam;
– Mampu menjelaskan fenomena berdasarkan teologi islam.

Tiga poin  diatas secara sederhana memaparkan corak keilmuan kader tentang nilai-nilai Islam, yang dimaksudkan agar setiap kader memiliki kesadaran sepenuhnya dari azas yang dianut IMM. Dengan kata lain, bertujuan agar setiap kader menjiwai Islam dalam segala aspek. Tidak cukup sampai disitu, fundamental tersebut harus direalisasikan dalam upaya mencari kebenaran demi kebenaran itu sendiri.

2. Internalisasi nilai-nilai keMuhammadiyahan

Setelah fundamentalisme Islam tertanam dalam diri kader yang minimal dapat dilihat dari indikator-indikator sebagaimana disebut sebelumnya. Maka selanjutnya adalah melakukan internalisasi nilai-nilai kemuhammadiyahan. Mengapa hal tersebut harus dilakukan?. Berangkat dari sebuah penelitian menunjukan bahwa 65 persen kader IMM bukan berasal dari keluarga Muhammadiyah(1). Realitas seperti ini tentu mengharuskan IMM memperkenalkan induk organisasinya, dengan maksud agar kader memahami gerakan Muhammadiyah dan ikut berkontribusi didalamnya. Hal ini sejalan dengan tujuan dibentuknya IMM yang tertuang dalam Anggaran Dasar (AD) BAB III tentang Tujuan dan Usaha (Pasal 7), yang berbunyi “tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”.

Uraian diatas secara eksplisit memberikan gambaran tentang apa sebenarnya yang hendak menjadi orientasi IMM. Maka mudah dipahami bahwa internalisasi nilai-nilai kemuhammadiyahan tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam proses pengkaderan IMM. Dalam hal ini, penulis memberikan indikator-indikator sederhana dari internalisasi nilai-nilai kemuhammadiyahan tersebut, sebagai berikut:

 Aspek, Kecakapan, dan Sikap

1 Substansi Muhammadiyah

  •  Memahami latar belakang dan hakikat muhammadiyah
  • Memahami unsur-unsur dalam corak gerakan muhammadiyah Keberpihakan
    – Loyalitas
    – Dedikasi

2 Esensi Muhammadiyah

  • Memahami tujuan muhammadiyah;
    -Implikasi sosial
    -Transformasi sosial

Secara mendasar initernalisasi nilai-nilai keMuhammadiyahan dimaksudkan agar kader memahami secara kompleks tentang organisasi Muhammadiyah. Pemahaman tersebut kemudian dituangkan dalam corak pemikiran dan perjuangan kader dalam menegakkan islam yang tidak terlepas dari konotasi Muhammadiyah.

3. Kulturisasi ke-IMM-an

Secara ‘struktural’ siapapun yang telah mengikuti rangkaian kegiatan pengkaderan yang diagendakan oleh IMM, tentu layak disebut sebagai kader IMM. Akan tetapi hal tersebut tentu belum cukup, seorang kader harus memiliki kultur IMM. Kultur IMM yang dimaksud disini merupakan semacam budaya yang melekat pada IMM itu sendiri. Dalam artian ciri khas yang membedakan IMM dengan kader Muhammadiyah pada ortom yang lain. Secara mendasar kulturisasi ke-IMM-an harus menyentuh ranah afektif dan kognitif kader, atau yang sering kita sebut moralitas dan intelektualitas.

Apabila ditinjau secara seksama, moral-intelektual dalam tubuh IMM telah ditempatkan sebagai karakter setiap kader. Hal tersebut terbaca dalam slogan IMM yang secara umum telah kita ketahui, yaitu “anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual”. Substansi yang terkandung dalam slogan tersebut secara eksplisit menggambarkan bahwa kader IMM adalah sosok individu yang memiliki sikap, perilaku, perbuatan, dan tindakan yang mengindahkan norma-norma agama dan sosial. Sedangkan dalam ranah kognitif, kader IMM adalah individu yang memiliki wawasan luas, memiliki pemikiran, dan nalar yang kritis.

Berdasarkan uraian diatas, maka menjadi keharusan dalam proses pengkaderan untuk menanamkan kultur IMM kedalam diri setiap kader. Tujuan dari kulturisasi ke-IMM-an tidak lain ialah agar setiap kader merasa memiliki IMM. Hal tersebut kemudian akan memberikan dampak positif yang lebih jauh, yaitu tertanamnya loyalitas, dedikasi dan kontribusi kader pada IMM. Sehingga setiap kader pada ahirnya bukan hanya menjadi sekadar kader yang legal secara struktur IMM, melainkan kader yang berkultur IMM.

Terlepas dari itu, karakter dan identitas kader yang dibangun dari basis tiga anak tangga pertama yaitu fundamentalisme Islam, internalisasi nilai-nilai Muhammadiyah dan kulturisasi ke-IMM-an merupakan identitas yang harus dimiki dan melekat dalam diri setiap kader. Ketiga anak tangga tersebut merupakan kasatuan integral yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk karakter pemikiran kader yang ideal. Hal tersebut bagaikan sisi segitiga yang dapat dibedakan akan tetapi tidak dapat dipisahkan.

Secara umum kulturisasi ke-IMM-an mengarahkan agar kader memahami apa, bagaimana (sikap) dan untuk siapa (tujuan) keberadaaan IMM ?. Dalam menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin mengutip sedikit hal-hal berikut:

Terkait pertanyaan apa?

– Organisasi ini bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah disingkat IMM adalah gerakan mahasiswa islam yang beraqidah islam bersumber Al-quran dan As-sunah (Anggaran Dasar IMM BAB I, pasal 1).

– IMM adalah lembaga pengkaderan islam yang berlandasakan idiologi Muhammadiyah. (Deklaraasi Setengah Abad IMM, poin I).

Terkait pertanyaan, bagaimana sikap ?

– Membina para anggotanya menjadi kader perserikatan Muhammadiyah, kader umat dan kader bangsa yang senantiasa setia terhadap keeyakinan dan cita-citanya (Anggaran Dasar IMM Bab III, Pasal 8; Poin 1).
– Pengkaderan IMM berbasis pada penguatan kapasitas individu dan gerak komunal yang bertumpu pada kearifan lokal (Deklaraasi Setengah Abad IMM, Poin 2).
– Pengkaderan ikatan selalu menanamamkan nilai-nilai moralitas profetik dan multikultural dalam rangka membumikan gerakan dakwah Islam (Deklaraasi Setengah Abad IMM, Poin 3).

Terkait pertanyaan, untuk siapa ?

– IMM adalah gerakan mahasiswa yang bergerak dibidang keagamaan, kemasyaraakatan dan kemahasiswaan (Anggaran Dasar IMM Bab II, Pasal 5).
– Tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah (Anggaran Dasar IMM Bab III, Pasal 7).
– Orientasi gerakan IMM diarahkan pada penyelesaian problematika kebangsaan pada kemanusiaan universal (Deklaraasi Setengah Abad IMM, Poin 6).

Dari uraian diatas, identitas religiusitas kader IMM harus disempurnakan dengan membungkusnya dalam kultur IMM. barangkali hal tersebut dapat dianalogikan seperti sebuah buku, azas Islam, dan gerakan Muhammadiyah merupakan substansi atau tema dari apa yang terkandung di dalam buku tersebut. Sedangkan IMM merupakan rangkaian kata yang akan menyampaiakan tema tersebut kepada pembaca.

Integritas Cendekiawan (Intelektualitas)

Intelektualitas merupakan bagian kedua dalam trilogi IMM yang secara ideal memposisikan kader sebagai sosok cendekiawan. Hal tersebut tentu tidak berlebihan, pasalnya sebgai sosok yang sedang menempuh jenjang pendidikan formal tertinggi (sebagai mahasiswa), setiap kader IMM harus mampu merepresentasikan diri sebagai sosok cendekiawan.

Seorang cendekiawan akan senantiasa terus menggali dan memperdalam ilmu pengetahuan, mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan ranah kebenaran, selalu menentang dan melawan kekuasaan dalam sistem otoriter, selalu kritis dan mampu mengintegrasikan permasalahan-permasalahan yang ada, menentang pelanggengan status quo, kaya akan gagasan dan konsep, memiliki pengetahuan mumpuni dan sensitif akan problem sosiokultural masyarakat dan, mereka para cendekiawaan tidak mudah dikooptasi kekuasaan.

Ciri-ciri cendekiawan sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Zamroni adalah:

1. Cendekiawan senantiasa mempertanyakan sesuatu. Seakan-akan bertanya merupakan fungsi yang ada pada cendekiawan
2. Cendekiawan senantiasa memiliki sikap skeptis pada sesuatu yang baru.
3. Cendekiawan senantiasa menentang watak, prilaku dan kekuasaan otoriter.
4. Cendekiawan senantiasa memegang teguh dan konsisten dalam pikirannya.

Berangkat dari definisi dan ciri-ciri diatas, sebagai kader yang memiliki integritas cendekiawan, sudah semestinya terus mencari ilmu pengetahuan dan kebenaran. Hal tersebut dilakukan dengan terus mengkaji lintas disiplin ilmu. Selain itu, seorang kader harus mampu mengkorelasikan atau mengkomparasikan berbagai ilmu pengetahuan tersebut dengan pandangan Islam yang mendahului sebelumnya. Pada akhirnya ilmu pengetahuan tersebut tidak harus disimpan sendiri, melainkan harus dimanfaatkan demi kebaikan bersama. Di sisi lain, integritas seorang cendekiawan akan ditandai dengan memiliki tipikal kesadaran kritis dan kesadaran conceince, serta peka terhadap realitas empiris-kontekstual. Hal-hal tersebut harus dimiliki oleh setiap kader sebagai tumpuan yang akan memberikan warna dalam memasuki peran Humanitas.

4. Kesadaran Kritis dan Kesadaran Conceince

Dua jenis kesadaran, yaitu kesadaran kritis dan kesadaran conceince menurut masing-masing pemukanya diklaim merupakan jenis kesadaran yang hanya dapat dicapai oleh manusia. Kesadaran kritis merupakan jenis kesadaran tertinggi manusia yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan asal Brazil, Paulo Friere. Dalam kesadaran ini, manusia mampu mengkaitkan berbagai faktor, aspek dan sistem atas suatu permasalahan yang terjadi. Dengan kata lain, kesadaran kritis adalah jenis kesadaran yang mampu mengkorelasikan berbagai permasalahan dan kemudian mencari solusi atas permasalahan tersebut. Selain itu, kesadaran kritis menuntut seseorang menjadi agen transformasi sosial yaang terlibat dalam perubahan sosial ke arah yang lebih baik.

Kesadaran kritis tentu tidak dapat dicapai secara tiba-tiba melainkan harus melalui sebuah proses pendidikan yang kompleks. Salah satu cara yang menurut penulis efektif dalam menumbuhkan kesadaran kritis ialah menumbuhkan semangat membaca, mengkaji ilmu pengetahuan dan berdiskusi. Secara tidak langsung hal tersebut akan menambah wawasan dan pengetahuan kader, sehingga parlahan tapi pasti kader akan mampu memahami gejala-gejala sosial yang melenceng atau telah keluar dari ranah kebenaran. Kemudian, seorang kader harus saling mengarahkan untuk memperbaiki keadaan tersebut sesuai dengan tujuan yang sebenarnya.

Sedangkan jenis kesadaran berikutnya ialah kesadaran yang dikemukankan oleh Kohntamm yaitu kesadaran conceince. Sebelumnya, menurut Kohntamm tingkatan-tingkatan yang dilalui oleh kehidupan manusia dalam proses menjadi, adalah sebagai berikut: pertama, tingkat orgnik, tingkat dimana manusia hanya tumbuh berwujud yang hanya memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Kedua, tingkat vegetatif, tingkat ketika pertanda hidup lebih tinggi, seperti adanya gerak-gerak terbatas. Ketiga, tingkat animal, ialah ketika hidup telah memahami perangkat nafsu dan naluri. Keempat, tingkat human, ialah ketika akal dan pikiran berperan dalam menjalani kehidupan. Kelima, tingkat religius dan absolute, dalam tingkatan ini, hati berperan dalam mewarnai seluruh kehidupan manusia sehingga individu dapat mampu melihat, memahami, dan menerapkan norma-norma tertinggi dalam kehdupan. Kesadaran yang terahir ini disebut dengan kesadaran concience.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa kesadaran conceince adalah kesadaran yang bersumber dari perasaan atau hati. Kesadaran jenis ini akan mendasari setiap perbuatan, sikap dan tingkah laku manusia dalam menjalani hidup dan kehidupannya sebagai manusia secara utuh. Disisi lain, kesadaran ini akan mendorong setiap individu memiliki rasa empati antara satu dan yang lain. Kesadaran conceince berperan dalam memahami gejala dan realitas sosial berdasarkan sisi hati kemanusiaan. Artinya, memandang kehidupan sosial bukan hanya dari segi intelektualitas melainkan juga dari faktor yang selaras dengan sisi kemanusiaan. Kesadaran ini penting dimiliki oleh setiap kader, agar masing-masing kader merasa memiliki IMM, merasa senasib dan seperjuangan dalam misi kemanusian.

5. Peka Realitas Sosial

Kader IMM yang telah memijakan kaki pada anak tangga keempat, tentu tidak diragukan lagi bahwa kader tersebut memiliki kepekaan terhadap realitas sosial. Pada dasarnya, peka realitas sosial ini merupakan konsekuesi logis dari kesadaran kritis dan kesadaran conceince sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Dalam hal ini, menurut penulis indikator seorang kader “peka realitas sosial” adalah sebagai berikut:

a. kemampuan kader dalam mengidentifikasi permasalahan sosial yang terjadi;
b. kemampuan kader dalam menjbarkan sebab permasalahan sosial tersebut terjadi;
c. kemampuan kader dalam menjabarkan dampak dan akibat dari permasalahan sosial tersebut;
d. kemampuan kader dalam merumuskan solusi atas permasalahan sosial tersebut.

Indikator-indikator diatas secara umum merupakan pijakan kader dalam menaiki anak tangga berikutnya, yaitu realisasi/humanitas yang terdiri dari dua tingkatan yaitu transformasi sosial dan pionir tajdid. Dengan demikian, bentuk transformasi sosial dan sebagai agen tajdid seorang kader akan sangat bergantung pada tingkat kepekaannya terhadap realitas sosial.

Realisasi (Humanitas)

Realisasi atau yang juga berarti “keterlibatan”, merupakan sebuah bentuk sikap yang harus dimiliki oleh setiap kader IMM. Katerlibatan yang dimaksud disini adalah keikutsertaan kader dalam segala hal (positif), sebagai bentuk representasi dari tingkatan-tingkatan anak tangga yang telah dilalui sebelumnya. Keterlibatan kader harus berdasarkan panggilan hati, bukan karena hanya sekedar ikut-ikutan semata.

Dalam praktiknya, kader harus mentransformasikan diri dalam kehidupan sosial yang membawa perubahan lebih baik. Hal tersebut dapat di mulai dari tingkatan struktural dalam diri IMM (kader perserikatan), keterlibatan untuk umat (kader umat) dan keterlibatan dalam skala jauh lebih luas (kader bangsa). Tidak hanya berhenti pada keterlibatan saja, kader IMM yang ideal kemudian harus menjadi pionir tajdid.

6. Transformasi Sosial

Transformasi sosial yang dimaksud adalah keterlibatan kader dalam mengupayakan kehidupan sosial yang lebih baik, yaitu mengubah pola atau sistem dalam kehidupan sosial yang tidak sesuai dengan tujuannya. Dengan kata lain, transformasi sosial berarti memberikan solusi atas suatu permasalahan sosial dan terlibat didalamnya. Misalnya, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara berdakwah, bakti sosial, advokasi kepada masyarakat dan lain sebagainya. Apabila permasalahan sosial tersebut terjadi karena kebijakan penguasa yang keliru, maka kader wajib untuk mengkritk, menolak, dan memberikan jalan keluarnya.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa transformasi sosial erat kaitannya dengan kesadaran kritis dan conceince serta kepekaan atas realitas sosial. Apabila kader tidak memiliki sikap kritis dan apatis terhadap realitas sosial, maka hampir dapat dipastikan tidak mungkin kader dapat melakukan transformasi sosial. Hubungan tersebut akan telihat pada ilustrasi dibawah ini:

PicsArt_1463365335278

Berdasarkan ilustrasi tersebut, sebelum melakukan transformasi sosial terlebih dahulu seorang kader harus mengetahui keadaan sosial yang terjadi dan mengidentifikasinya, kemudian melakukan analisis terhadap keadaan sosial yang dinilainya salah, selanjutnya merumuskan sebuah solusi untuk keadaan yang demikian dan yang terahir terlibat didalamnya. Sekali lagi yang perlu ditekankan dalam ranah transformasi sosial adalah karena panggilan hati dan kepedulian terhadap sesama. Bukan karena faktor eksistensi, gengsi, apa lagi hanya menjadi epigon semata.

7. Pionir Tajdid

Sebagaimana dari susunan katanya, pionir tajdid secara etimologis dapat kita artikan sebagai berikut. Kata pionir menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti penganjur; pelopor; perintis jalan; dan pembuka jalan. Sedangkan kata tajdid dalam KBBI memiliki arti pembaruan; modernisasi; dan restorasi. Dengan demikian pionir tajdid adalah sosok yang selalu berdiri didepan dalam mengembalikan, menjaga, dan merubah keadaan sesuai kebenaran yang dibenarkan.

Seorang pionir tajdid akan selalu memiliki semangat dalam menyerukan keadilan dan kebenaran. Peran fungsi pionir tajdid antara lain: mengembalikan keadaan yang sosial yang tidak sesuai kebenaran pada keadaan sebelumnya (restorasi) yang dinilai benar, apabila keadaan sebelumnya adalah salah, maka pionir tajdid berkewajiban memberikan solusi dan kontribusi demi terciptanya keadaan yang lebih baik dalam suasana dan kondisi yang baru (pembaharuan); ketika keadilan dan kebenaran telah terwujud (atau sebelumnya memeng demikian), maka pionir tajdid akan senantiasa menjaga keadaan tesebut. Sosok inilah yang menurut penulis layak disebut sebagai kader IMM ideal.

Dari seluruh uraian diatas, terlepas pembaca sepakat atau tidak, penulis berharap coretan sederhana ini dapat menjadi masukan dan memberikan manfaat bagi kita semua.

Baca dan diskusikan…
Komentar terbuka lebar bagi yang ingin menambahkan. Bagi pembaca yang tidak sependapat dengan penulis, dengan senang hati dipersilahkan menyanggah dalam panggung yang sama, yaitu menulis.

Daftar Pustaka

1. Ahmadi, Makhrus dan Aminuddin Anwar. 2014. Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan. Yogyakarta: Rangkang Education.

2. Said, 1996 dalam Prof. Zamroni. 2011. Dinamika Peningkatan Mutu.Yogyakarta: Gavin Kalam Utama.

3. Prof. Zamroni. 2011, Hlm 77. Dinamika Peningkatan Mutu.Yogyakarta: Gavin Kalam Utama.

4. Heriawan, Adang,. Dwi Nugroho H., Budi Raharjo, dkk. 1988. Mengenal manusia dan pendidikan. Yogyakarta : Liberty, Yogyakarta

Yogyakarta 16 Mei 2016

Memaknai Ikatan, Mengidentifikasi Tahap Kaderisasi Madya

Posted on Updated on

Untitled design

Oleh: Dewi Setiyaningsih

Ketua Bidang Keilmuan, PC IMM AR Fakhruddin Jogjakarta 2015/2016

Organisasi Berbasis Nilai Ideologis

Ada organisasi yang terbentuk atas dasar kesamaan hobi, kesamaan nasib, dan atas dasar nilai.Yang mendasarkan diri pada nilai, pastilah individu yang di dalamnya bersepakat akan suatu nilai, maka mereka menyatu untuk menggerakkannya, memiliki visi yang sama, kepentingan bersifat kolektif.

Sebab organisasi berbasis nilai memiliki beban ideologis, ia perlu ruang kaderisasi. Ada yang hanya dengan indoktrinasi, ada pula yang menggunakan doktrin dan pengetahuan. Yang ideal adalah yang kedua, ia tidak menjadikan kadernya taklid buta dan tidak membuat gerak organisasi jumud. Tidak taklid karena pewaris mampu mempertanggung jawabkan visi ideologis dengan nalarnya. Tidak jumud karena organisasi akan bergerak dengan mengkontekskan nilai pada realitas. Dengan demikian, tidak ada pemaksaan pandangan tertentu, misalnya pandangan negara khilafah di konteks masyarakat global yang multi aktor.

Membangun ruang kaderisasi tidak cukup dengan perangkat AD/ART organisasi dan segala atribut simbol (lagu-lagu dan bendera), karena simbol hanyalah abstraksi dari nilai. Itu mengapa, menghafal redaksional tujuan organisasi bukanlah indikator kader memahami visi ideologis. Ketika organisasi pergerakan teralu fokus pada simbolitas dan melupakan esensi, kemungkinan ia akan menjadi empty shell. Bukan berarti simbolitas tidak dibutuhkan, ia sangat perlu untuk memulai perkaderan, karena simbol membentuk identitas, membangkitkan rasa memiliki. Namun, ada masanya ketika kader harus bergeser dari identitas simbolik ke identitas nilai.

Metode yang digunakan sebagai sarana transfer ideologi tergantung segmentasi basis masa organisasi. Jika ia adalah serikat buruh, tidak cocok untuk menerapkan metode membaca tulisan ilmiah, maka dengan cara persuasif menyatukan identitas berdasarkan nasib akan lebih pas. Sebaliknya, metode itu kurang pas untuk organisasi yang berisi kaum muda terpelajar. Segmentasi kaum muda terpelajar akan lebih pas dengan aktivias-aktivias kaum akademisi, seperti membaca, berdiskusi, dan aksi. Membaca disini adalah membaca buku dan realitas sosial (membaca realitas sosial bisa melalui saluran pergaulan di luar lingkaran organisasi). Berdiskusi adalah upaya untuk saling bertukar pikiran antar interpretasi bacaan kader, agar ia tidak memandang kebenaran tunggal (menurut interpretasinya). Sementara aksi adalah aktivitas mengaktualisasikan hasil bacaan kader, wujudnya bisa tulisan, seminar, demonstrasi, riset, dan kerja-kerja sosial. Kesemuanya ini akan berjalan ketika ruang kaderisasi organisasi sanggup memfasilitasi.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut, nilai yang turun menjadi visi ideologi dapat dimaknai, lalu diimplementasi. Awalnya, kader cukup mengidentifikasi simbol-simbol, kemudian mereka didobrak untuk mempertanyakan maknanya. Sama halnya seperti kitab suci, kita perlu ilmu untuk membaca tafsirnya, sebab ia tidak menggunakan bahasa eksposisi. Inilah mengapa ia bersifat universal, tidak seperti kitab UU yang selalu perlu revisi. Masih sama halnya seperti kitab suci, ketika masih kecil kita dibiasakan untuk membacanya dan dipahamkan semata-mata sebagai identitas simbolik, pahala-dosa, surga-neraka. Namun, setelah nalar telah mampu diajak berkompromi, kita mengidentifikasi nilai-nilai dengan perangkat pengetahuan dan realitas sosial. Analogi ini saya anggap sepadan jika nilai organisasi tersebut merupakan abstraksi dari visi keilahian, seperti religiusitas, intelektualitas dan humanitas.

Macetnya transfer ideologi bisa ditandai melalui tiga aktivitas yang menjadi metode diatas (membaca, berdiskusi dan aksi). Akan bermasalah pula ketika dari ketiga itu hanya dipenuhi salah satu, misalnya membaca buku tetapi tidak memperluas pergaulan sebagai upaya membaca realitas. Bisa jadi kader melihat dunia sesempit ruang organisasinya, efeknya akan berpengaruh pada output kaderisasi. Misalnya: beberapa gerakan mahasiswa yang kelewat revolusioner lupa bahwa ada lahan pertarungan visi ideologis selain di jalan, yakni ruang-ruang ilmiah dan ruang-ruang budaya pop, atau organisasi mahasiswa yang cukup fundmental lupa bahwa ada ruang-ruang selain mimbar masjid.

Hal lain yang perlu diperhatikan, yakni memastikan bacaan kader bersifat ideologis, filosofis, kritis dan transformatif. Konsekuensi dari ruang kaderisasi yang tidak hanya doktrin (tapi juga memfungsikan akal) adalah interpretasi bacaan yang berbeda dari setiap kader. Disini pentingnya membaca realitas sosial (sekali lagi), untuk memperoleh aksiologi dari bacaan filosofisnya. Terjebak pada ruang teks bisa jadi mengasyikkan, tapi membenturkannya dengan realitas sosial yang seseungguhnya? Tidak setiap orang mampu.

Kecuali jika kader dicetak untuk menjadi seorang filsuf yang hanya mampu berbicara perihal dunia namun tidak mampu merubah dunia, maka membaca realitas sosial menjadi tidak perlu.

Lalu, bagaimana dengan Ikatan kita?

Ia adalah gerakan berbasis nilai ideologis, maka di dalamnya ada ruang kaderisasi di sebelah kanan dan di sebelah kirinya ada ruang aktualisasi. Itu tercermin secara redaksional di AD/ART. Saya pernah membahasnya disini (https://dewisiaa.wordpress.com/2015/03/27/kader-imm-dan-aktivisme-yang-bagaimana-3/). Jadi, konsekuensi dari kaderisasi ialah aktualisasi nilai.

Untungnnya, IMM memiliki tahapan-tahapan dalam ruang kaderisasinya, dibagi menjadi kader Dasar, Madya, dan Paripurna. Ini bagus mengingat untuk menjalankan kaderisasi yang paripurna membutuhkan sebuah proses panjang.

Di level perkaderan dasar, kader tidak dituntut untuk benar-benar mampu membaca realitas sosial sebenarnya, tapi sebatas penguatan ideologi gerakan. Maka, tidaklah salah ketika mereka cendeung berdiskusi perihal pemikiran-pemikiran dan hal filosofis, yang kritis dan transformatif, hal yang wajar jika ia larut dan asyik dalam ruang teks semata, dan idealnya memang demikian. Kader dasar dituntut untuk asyik beronani intelektual. Adapaun kerja-kerja aksi seperti demonstrasi dan baksos adalah bagian dari konstruksi keberpihakan.

Memasuki tahapan kader madya, ia harus keluar dari eskapismenya, dan turun ke realitas sesungguhnya. Dengan bekal yang matang, kader siap untuk mengenali dinamika realitas sosial. Maka, pergaulan seorang kader madya dituntut harus lebih luas dan heterogen, agar ia mampu memetakan kondisi sosial hari ini. Misalnya, ruang diskusi kader bukan lagi antar organisasi perkaderan, namun lintas pergerakan, baik itu pergerakan mahasiswa hingga masyarakat sipil (kota) dan gerakan rakyat di daerah-daerah.

Akan tetapi, kader madya tidak dituntut untuk mampu menyelesaikan persoalan tersebut secara strategis, baru sebatas mampu memetakan kondisi sosial. Tugas untuk menyelesaikan persoalan secara strategis ada pada kader paripurna. Disitulah cetak kader yang final: umat, bangsa atau persyarikatan?

Jadi, akan bermasalah ketika kriteria kaderisasi di tahap sebelum paripurna tidak terpenuhi, terutama di level kader dasar. Kader dasar adalah penentuan paripurna atau tidaknya kaderisasi, sebab benih nilai disemai di tahap tersebut. Ketika kader dasar belum bisa move on dari identitas simbolik ke identitas nilai, tidak mengalami masturbasi intelektual (kenikmatan berwacana dan berpikir), dll, ia belum siap untuk melanjutkan jenjang madya sebab bekal ideologi dan keilmuannya belum matang.

Bagi saya, membaca akan membangun perangkat ideologi dan keilmuan, berdiskusi akan memecah egoistik, baksos akan membangun altruisme, demonstrasi akan membangun mentalitas kritis kader. Jadi, alangkah baik jika menyelesaikan dulu hal-hal ini sebelum ke tahapan Madya.

Jenjang kaderisasi itu yang menjadi ukuran kader, bukan jabatan struktural, saya pernah  membahasnya disini. (https://dewisiaa.wordpress.com/2015/10/11/mencari-pola-gerakan-kader-madya-ikatan/)

Dan, bagaimana kita sebagai kader Madya?

Sejauh mana kita membuka pergaulan? Sejauh mana kita berikut serta dalam demonstrasi sebagai upaya advokasi masyarakat tertindas? Sejauh apa ruang bergerak kita? Sudah selesaikah kita menafsir yang mana mustadh’afin yang mana mustakbirin hari ini? . Sudahkah kita sebagai kader madya, berupaya untuk menyelesaikannya ?. Hingga kita mendapat gambaran tentang kondisi sosial yang perlu kita benahi? Sebelum melanjutkan kaderisasi yang paripurna, tuntaskan dulu pertanyaan yang di bold tersebut. Karena kader paripurna dituntut untuk berkontribusi dalam penyelesaiannya. Dan bagi saya, itu adalah proses yang berat, jikapun bisa melalui, saya pribadi pastilah butuh proses dua kali lipat lamanya dari yang sewajarnya.

Mengapa tahapan di kader madya juga menjadi sangat berarti, analoginya, seorang ahli elektronik yang ingin memperbaiki komputer rusak hendaklah mengenali apa itu mouse, keyboard, layar, dan operating system (OS). Jika ia buta akan software dan hardware namun bersikeras merasa yakin dapat membenahi komputer itu, bisa jadi ia akan memperbaiki layar sementara yang bermasalah adalah OS nya.

Terakhir, karena organisasi ibarat kendaraan, maka ada kalanya laju kita lambankan untuk mengamati rute perjalanan dan mengecek onderdil organisasi. Dalam arti kita berefleksi.

Bisa dimulai dengan pertanyaan: Apa beda ilmuwan, intelektual, ideolog, dan ulama?

Sekian. Wallahua’lam.