DAM PC IMM AR Fakhruddin 2016: Bincang Asik Gerakan Sosial Baru

Posted on Updated on


Bantul – Adzan Ashar dikumandangkan oleh muadzin Masjid Shiratal Mustaqim yang bertempat di belakang kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lantunan itu memanggil umat-Nya, mengingatkan umat untuk menunaikan salah satu kewajiban-Nya. Bantul, hari ke tujuh belas bulan September tahun 2016 kegiatan Darul Argam Madya (selanjutnya disingkat DAM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (selanjutnya disingkat IMM) Pimpinan Cabang AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta sudah berlangsung selama tiga hari dari enam hari yang akan dilalui oleh peserta  DAM. Usai adzan dikumandangkan para peserta yang berkumpul di ruangan ujung Pondok Al-Maun melanjukan Diskusi Makalah New Social Movement atau dalam Bahasa Indonesia Gerakan Sosial Baru. Para peserta dengan semangatnya untuk menjadi kader yang berintelektualitas menyimak penyampaian dari peserta yang menuliskan makalahnya tentang Gerakan Sosial Baru.
Diskusi Makalah Gerakan Sosial Baru dipantik oleh sosok lelaki muda progresif dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Ar-Fakhruddin periode 2014-2015, Hilmy Dzulfadli. Dengan atasan stripe dan bawahan berwarna hitam ia mencoret-coretkan spidol yang dibawanya ke papan putih. Menuliskan beberapa kata yang berkorelasi tentang Gerakan Sosial Baru, beberapa kata yang muncul dari yang disampaikan oleh peserta DAM yang mempunyai makalah tentang tema tersebut. 

Affan Qolbi, salah satu peserta yang bermakalahkan Gerakan Sosial Baru menyampaikan isi makalahnya bahwa masyarakat harus turut andil dalam pergerakan sosial, “sebagaimana pemikiran Mansour Fakih, beliau tidak sepakat apabila masyarakat dijadikan objek. Masyarakat adalah subjek, kalau perlu masyarakat berada di garda terdepan dalam setiap pergerakan,” tuturnya sembari menggerakkan tangannya dan menatap mata para peserta DAM dengan penuh keyakinan dan kepercayadiriannya. Aba Idris Shalatan peserta DAM yang juga ikut andil dalam penyampaian makalah menyampaikan Gerakan Sosial Baru dalam lingkup gerakan yang berada di kampus. Aba sendiri dengan latar belakang jurusan Pendidikan Agama Islam tidak serta merta menciut dengan tema tersebut sebagaimana biasanya tema itu ditekuni oleh teman-teman FISIPOL (Fakultas Ilmu Sosal dan Politik) ataupun Fakultas Hukum. Adi Setyawan, mahasiswa asal Jogja yang mengambil jurusan Ilmu Hukum  juga menyampaikan isi makalahnya dengan tema yang sama. 

Religiusitas kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memang harus selalu ditingkatkan. Walaupun diskusi makalah tersebut sangat menarik namun mereka tidak melarutkan dirinya untuk hal intelektualitas tersebut, dengan kesadaran mereka beberapa menit setelah azan ashar dikumandangkan para peserta DAM menyepakati untuk melanjutkan diskusi setelah sholat ashar. 

Peserta DAM melangkahkan kaki menuju Masjid Shiratal Mustaqim yang tidak jauh dari Pondok Al-Maun, beberapa langkah saja sambil menikmati hijaunya pohon pisang, kelengkeng dan tanaman lain yang masih tersisa diantara tanaman beton, sambil melewati motor-motor mereka yang terparkir tak begitu rapi, mereka berwudhu lalu menunaikan shalat ashar secara berjamaah. 

Detik-detik waktu berlarian, menit-menit waktu semakin berjalan dengan bergulirnya pemikiran yang bercampur aduk di setiap pikiran insan manusia, terlebih pada peserta DAM IMM Ar-Fakhruddin. Diskusi Makalah yang dipantik oleh Hilmy Dzuldafdli berakhir dan kemudian dilanjutkan Materi “Gerakan Sosial Baru; Wacana, Aksi dan Kontekstualisasi” yang dilanjutkan oleh Farhan Luthfi, lelaki berkacamata yang baru saja menikah dan pernah menduduki jabatan struktural sebagai Ketua Umum IMM Ar-Fakhruddin periode 2011-2012. 

“Sejak kapan gerakan sosial ada?” ia melontarkan pertanyaan itu kepada seluruh peserta DAM. 

Affan Qolbi berceloteh, “tahun 1912”. Sontak peserta DAM tertawa terbahak karena itulah tahun lahirnya Muhammadiyah.

“Sejak kapan gerakan sosial lama itu ada dan kemudian muncul gerakan sosial baru? Apa yang membedakan gerakan sosial lama dengan gerakan sosial baru?” lagi-lagi Farhan yang memantik diskusi melontaran pertanyaannya kepada peserta DAM. Namun ia menjawab sendiri pertanyaannya, “Gerakan sosial lama ada sejak adanya pertentangan kelas, misalnya antara borjuis dan proletar. Maka pergerakan ini dilakukan oleh para pekerja, kaum buruh. Gerakan sosial baru lebih kepada permasalahan yang kompleks dan perlu dilakukan secara lintas segmen, lintas sektoral, misalnya permasalahan global warming sehingga muncul gerakan baru Stop Climate Change , Green Peace. Gerakan sosial baru mencoba menyelesaikan permasalahan yang baru”.

Diskusi dengan tema Gerakan Sosial Baru menjadi materi diskusi yang menarik bagi peserta DAM. Fitri Lestari, yang disaat-saat diskusi dijuluki “Kaum Buruh” mengangkat tangannya, melihat lelaki berkacamata itu dan menanyakan bahwa gerakan  sosial baru mirip dengan post modernism, “tadi mas Farhan telah menyampaikan contoh-contoh gerakan sosial baru seperti Stop Climate Change, Green Peace yang saya pikir seperti organisasi yang berpaham post modern, kenapa tidak perubahan iklim, banyaknya karbon monoksida dilawan dengan menilik akarnya? Karena akar dari segala permasahan adalah kapitalisme. Ya, kapitalisme musuh kita bersama! Sekarang ini kalau kita pergi ke beberapa toko banyak mereka yang tidak memberi plastik, malah kita harus membeli plastik mereka, terlebih ada juga toko yang memberikan paper bag agar dipandang sebagai toko yang peduli sampah”.

Farhan Luthfi langsung memberikan pertanyaan, “dengan cara apa kita melawan kapitalisme?”

“Sosialisme.”  Fitri Lestari menjawab.

“Melawan kapitalisme? Dengan cara bagaimana”, Farhan melontarkan pertanyaan lagi.

“Ya, dengan tidak merakuskan diri secara kapital. Hidup bersama-sama. Gotong royong.”

Romi maulana, peserta DAM yang membalut perut one pack nya dengan baju koko putih menambahkan, “Ya, saya juga pernah berdiskusi dengan Gerakan Sampul Semarang, Sekolah Politik, diskusi bersama Gerakan Pembebasan mereka juga berpendapat bahwa musuh kita bersama adalah kapitalisme dan itu inti dari segala permasalahan.”

Farhan Luthfi menyengir, “ya, dengan cara sosialisme? Pemikirannya sosialis sekali ya. Ya gerakan sosial baru itu kan berkaitan dengan permasalahan yang baru yang diselesaikan dengan aktor yang baru dan ideologi yang baru.” Dengan cibiran Farhan yang mengatakan Fitri Lestari pemikirannya sosialis Farhan membrodol banyak pertanyaan tentang sudahkah Fitri Lestari tamat membaca buku Islam dan Sosialime, Kitab-kitab ataupun pemikiran tokoh dari Dataran Arab yang kemudian ditanggapi seorang Fitri Lestari dengan beberapa kali gelengan kepala.

Tak ketinggalan Liza Uswatun Husna Lubis yang menekuni ilmu kesehatan di Universitas Aisyiah Yogyakarta menanyakan contoh real gerakan sosial baru, “dari masa gerakan sosial lama dan gerakan sosial baru permasalahan ekonomi tidak terselesaikan, apa contoh kasus real yang ada”, tanya Liza dengan kebingungannya memanggil Farhan mas atau pak. Walaupun pertanyaan tersebut sudah dijelaskan diawal materi oleh Farhan namun dirinya tetap menanggapi, “gerakan sosial lama memperjuangkan kemakmuran materi, misalnya kaum buruh mengingingkan kenaikan gaji namun untuk gerakan sosial baru buruh tidak hanya memperjuangkan kemakmuran secara materi namun lebih pada kualitas hidup, seperti dibutuhkannya hari libur, jaminan asuransi kesehatan,  cuti hamil, cuti menyusui dan hal yang lainnya yang menunjukan humanitas, memanusiakan manusia”.

Diskusi dengan Farhan Luthfi membukakan pemikiran para peserta DAM bahwa ada gerakan sosial baru yang menjembatani, menyeimbangi, mengontrol  dan sebagai gerakan sosial yang mampu menyelesaikan permasalahan yang baru dimana permasalahan tersebut diselesaikan dengan aktor yang baru dan ideologi yang baru. 

Farhan Luthfi menutup dengan sebuah pertanyaan, “di dunia ini apa atau siapa yang tidak pernah berubah?”

“Kebenaran”, sahut Romi Maulana.

“Perubahan itu sendiri”, Bela Fataya mahasiswi asal Bali, Delegasi dari Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Agama Islam menjawab. “Itulah jawaban yang benar”, ucap Farhan Luthfi. (Fitri Lestari)

DAM PC IMM AR Fakhruddin 2016, dengan Gerakan Sosial Wujudkan Masyarakat Berkemajuan

Posted on Updated on

Yogyakarta – Ahmad Akbar Fitriansyah, Ketua umum PC IMM AR Fakhruddin mengungkapkan bahwa pada Darul Arqam Madya (DAM) periode ini, sengaja mengangkat tema kontekstualisasi gerakan sosial menuju masyarakat berkemajuan, karena memang kita melihat, gerakan sosial sangat dinamis, IMM sebagai gerakan sosial harus mampu menjawab persoalan masa sekarang ini.

“Jika Muhammadiyah berhasil dengan jihad konstitusi, IMM sebagai organisasi otonom, harus mampu punya peran strategis. Baik internal maupun secara luas,” ujarnya pada pembukaan DAM PC IMM AR Fakhruddin 2016, di ruang hall 4 kampus terpadu gedung A, UNISA Yogyakarta, Kamis (15/9).

Sementara itu, menurut Muhammad Habibi, wakil ketua DPD IMM Kota Jogjakarta “PC IMM AR Fakhruddin konsisten bergerak dengan gerakan sosial, misalnya membuat kajian analisis pasar berjejaring, lalu diberikan langsung kepada dinas pariwisata, ini sebuah gerakan langka di tubuh IMM, apalagi di kota Jogja. Dahulu Muhammadiyah ada masyarakat utama, saat ini ada masyarakat berkemajuan, mungkin ingin mewujudkan masyarakat Jogja yang berkemajuan. Bahwasannya Indonesia berkemajuan tak akan terwujud jika masyarakatnya tidak berkemajuan. Hal ini perlu dijawab dan menggunakan tafsir yang baru, gerakan sosial seperti apa, yang lama atau baru, menjadi tafsir baru dari kawan-kawan,” terangnya dalam sambutan sekaligus membuka kegiatan DAM PC IMM AR Fakhruddin 2016.

Dalam acara pembukaan ini, juga terdapat sambutan dari perwakilan rektorat kampus UNISA Yogyakarta, dan Pimpinan Daerah Yogyakarta. Selain itu, diiringi juga agenda Stadium General sebagai pengantar sebelum menuju kegiatan DAM selama enam hari kedepan, oleh Bapak Asep Purnama Bahtiar, selaku wakil ketua MPK PP Muhammadiyah, dan Ibu Norma Sari, mantan ketua PP Nasyiatul Aiyiyah 2012-2016.

PC IMM AR Fakhruddin Kota Jogjakarta, menyelenggarakan DAM pada 15-20 September 2016 berlokasi di Pondok Al Maun Bantul. Perkaderan yang diikuti oleh 28 peserta ini, selain peserta dari PC IMM AR Fakhruddin, juga terdapat beberapa kader IMM dari luar kota Jogjakarta, misalnya Purworejo dan Jakarta. (Fathi)

ADA-ADA SAJA

Posted on Updated on

ARIF. R

 

Ada makhluk tentu ada Pencipta

Ada kepala ada wacana

Ada mata ada mata-mata

Ada badan ada badan Pembina

Ada tangan ada pembangunan

Ada fikiran ada yang memikirkan

Ada kaki ada jalan investasi

Ada uang ada yang beruang

Ada lokasi ada eksekusi

Ada jogja harus di jaga

Ada budaya simbol kuat nya bangsa

Ada istiadat niscaya warga selamat

Ada pemimpin guna mengatur rakyat

Ada rakyat guna keseimbangan tatanan

Ada kebijakan untuk kemaslahatan

Ada undang-undang harus di patuhi

Ada hukum maka di tegakkan

                                                                          20 Maret 2016

PK IMM FKIK 2016/2017 Telah Resmi Dilantik

Posted on Updated on

Dalam acara pelantikan Pimpinan Komisariat IMM FKIK UMY, Senin (24/08), wakil ketua PDM kota Yogyakarta, Bapak Ashad Kusuma Jaya menegaskan untuk menjadi kader tidak perlu muluk-muluk.
“Cukup mempunyai sikap kristis dan juga rasa kepekaan terhadap orang lain. Mempunyai sifat kritis merupakan sikap khas yang harus di miliki oleh para aktifis, tidak hanya itu. Seorang aktifis harus selalu peka akan keadaan lingkungan sosialnya. Tidak perlu malu untuk berpikir  mengubah dunia, perkara apakah dunia ini dapat diubah itu merupakan urusan lain, namun yang pasti sebagai seorang aktifis kita harusnya punya pikiran kritis terhadap hal itu,” kata Ashad kepada para audiens di Gedung AR Fakhruddin B lantai 5 UMY.

Diakhir sambutannya Pak Ashad Kusuma Jaya berharap agar kader IMM FKIK harus berani melanjutkan perkaderan ke jenjang selanjutnya, mengingat saat ini kader IMM yang berasal dari disiplin ilmu FKIK masih terlampau sedikit yang dapat melanjutkan jenjang perkaderannya.

Sementara ketua umum IMM FKIK PC. AR Fakhruddin terpilih IMMawan Eric Widiantoro, menyampaikan banyak terima kasih kepada para pimpnan sebelumnya yang telah bekerja dengan sangat luar biasa.

IMMawan Eric Widiantoro juga menyikapi beberapa kader FKIK yang di diaspora ke organisasi lain, beliau berharap keadaan ini kiranya tidak membuat kondisi internal IMM FKIK semakin mundur.

Pelantikan Pimpinan Komisariat IMM FKIK UMY ini selain di hadiri oleh para kader IMM dari komisariat-komisariat yang ada di PC AR. Fakhruddin, namun juga di hadiri oleh perwakilan lembaga mahasiswa yang ada di FKIK dan juga Dekan FKIK. (Suryatman)

Pimpinan Komisariat IMM FPB UMY 2016/2017 Telah Sah Dilantik

Posted on Updated on

Sabtu, 20/08/2016 bertempat di Gedung AR Fakhruddin lt. 5 UMY, Pimpinan Cabang  IMM AR Fakhruddin Yogyakarta melantik pengurus baru,  Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta periode 2016/2017. Ini merupakan pimpinan generasi ke empat.

Pimpinan Komisariat FPB UMY merupakan komisariat termuda yang ada di PC IMM AR  Fakhruddin Yogyakarta, pada tahun 2012 IMM FPB UMY di mekarkan dari IMM Fisipol UMY, karena pada tahun itu UMY mendirikan Fakultas Pendidikan Bahasa yang sebelumnya tergabung sebagai salah satu jurusan yang ada di Fakultas Isipol.

Perihal usia yang relatif muda ini ketua Umum yang baru IMMawan Adam Al Hakim dalam sambutan pengangkatannya menyadari ada begitu banyak pekerjaan rumah yang musti di lakukan oleh pimpinan periode ini, baik masalah internal maupun masalah eksternal, oleh sebab itu IMMawan Adam Al Hakim mengharapkan sokongan dari seluruh kader IMM Komisariat FPB UMY dan juga para pimpinan komisariat lainnya yang ada di naungan PC IMM AR Fakhruddin dalam mengawal IMM FPB UMY untuk menghadirkan atau memajukan IMM FPB UMY yang lebih progresif.

Sementara IMMawan Joko Lukito selaku mantan ketua umum tidak begitu banyak berpesan, beliau hanya mengharapkan agar seluruh kader yang sekarang ada di struktural IMM FPB UMY berusaha memberikan yang terbaik, kurangi mengeluh, dan menekankan pentingnya bekerja sama sesama anggota.

Tak beda jauh berbeda dengan harapan ketua umum IMM FPB UMY yang baru, ketua umum PC AR Fakhruddin IMMawan Ahmad Akbar juga berpesan, “meskipun PK IMM FPB UMY tergolong muda, pimpinan komsat IMM FPB UMY tak perlu minder dengan komsat-komsat yang lainnya, tetap optimis dan lakukan yang terbaik”.

IMMawan Ahmad Akbar juga menekankan pentinganya membuat database kader, mengingat IMM FPB UMY ini belum lama berdiri kiranya membuat data kader sejak periode awal tentu tidak begitu sulit.

Di akhir pesannya IMMawan Ahmad Akbar mengharapkan ada kader dari IMM FPB UMY yang dapat melanjutkan proses perkaderan ke jenjang selanjutnya yaitu Darum Aqram Madya (DAM), karena sejak awal terbentuk IMM FPB UMY belum ada kader IMM FPB UMY yang mengikuti DAM, hal ini penting di tindak lanjutin demi kelancaran proses perkaderan yang ada di komsat IMM FPB UMY. (Suryatman)

Ketua AJI Jogja: Kasus Udin Belum Kadaluarsa

Posted on Updated on

Jogja- Anang Zakaria, ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) regional Yogyakarta mengungkapkan bahwa hari ini kami ingin memperingati 20 tahun yang lalu, ada seorang jurnalis bernama Muhammad Fuad Syarifudin atau akrab disapa Udin, wafat di RS Bethesda, usai tiga hari sebelumnya dianiyaya oleh orang yang tak dikenal. 

“Kami sering  mendapat banyak pertanyaan, kenapa AJI, masyarakat, seniman, dan beberapa LSM, setiap tahun tidak lelah memperingati kematian wartawan Udin” ujar Anang dalam orasi budayanya kepada para massa aksi peringatan 20 tahun kematian Udin, di seberang Tugu Jogja, Selasa (16/8).

Anang menuturkan, gerakan yang mereka perjuangkan sejauh ini, salah satunya terinspirasi dari  ucapan novelis mashyur Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

“Dari gerakan seperti ini, kita bisa melihat sebuah peringatan, tujuannya untuk mengingat, karena ingatan hadir agar di kemudian hari, tidak ada lagi kasus-kasus serupa yg terjadi,” tambah Anang.

Selanjutnya Anang menegaskan, “Hari ini, kasus ini bukan milik jurnalis saja. Namun, para wartawan, akademisi, dan masyarakat sipil datang berbondong-bondong untuk melakukan aksi bersama. Terima kasih, sudah menjadikan ini sebagai isu kebebasan berekspresi dan berpendapat, karena itulah hak warga negara”.

Anang juga menyinggung kondisi demokrasi di Jogja hari ini yang baginya tengah amburadul. Misalnya kritis dianggap komunis, dan masih banyak tuduhan-tuduhan stereotip. 

“Hari ini kami menegaskan kembali , bahwa kami ingin bebas berekspresi,” kata Anang.
Usai acara, kami sempat mewawancarai Anang, terkait sejauh mana perkembangan kasus Udin.”Kasusnya belum kadaluarsa, karena polisi belum menetapkan tersangka. Tersangka yg dahulu adalah hasil rekayasa. Nah, bukti -bukti yang lama itu belum ditindaklanjuti polisi. Dalam proses penangkapan Iwik dahulu, ia dijanjikan mengaku untuk kepentingan orang nomor satu di Bantul. Pengakuan ini terungkap dalam sidang Iwik. Ini salah satu celah yang bisa ditindaklanjuti polisi. Siapa orang nomor satu di Bantul itu?,” jawab Anang

“Mengapa dulu Edy Wuryanto melakukan rekayasa? Siapa yang menyuruh. Sebetulnya masih banyak hal yg bisa didalami polisi kalau mereka mau bertindak sebagai aparat kepolisian yang benar dan mau bertindak adil,” Anang menambahkan.

Kemudian perihal aksi apa saja yang dilakukan untuk merawat ingatan kasus Udin di luar aksi tiap 16 Agustus seperti ini. “Gerakan model seminar, agar masyarakat peduli terhadap kasus kita,” tutup Anang. (Fathi Djunaedy dan Fitri Lestari)

Ahmad Akbar: Perlunya Formulasi Untuk Merespons Hadirnya Banyak Fakultas Baru

Posted on Updated on

Ahmad Akbar, ketua PC IMM AR Fakhruddin Jogjakart, mengucapkan selamat kepada para pengurus baru Pimpinan Komisariat Universitas Aisyiyah (UNISA) Jogjakarta periode 2016/2017. Semoga apa yang dicita-citakan terwujud, menghadirkan organisasi ideal, yang sesuai dengan tujuan IMM.

Akbar mengatakan, ada hal baru pada periode kali ini, karena dulu masih bernama STIKES.  Hanya terdapat beberapa fakultas. Ketika berubah menjadi UNISA, muncullah beberapa tantangan, salah satunya dengan hadir banyak fakultas.

“Periode kali ini harus mampu membuat formulasi untuk menanggapi munculnya banyak fakultas.  Beradaptasilah dengan pelan-pelan.Tidak usah terburu-buru, nikmati saja proses berorganisasi,” ujar Akbar kepada para audiens Pelantikan PK IMM UNISA 2016/2017, di Gedung A lantai 4 kampus UNISA, Senin (15/8).

Menurut Akbar, IMM UNISA harus mampu membaca momentum. Membangun komunikasi yang baik dengan pihak kampus, HMJ, dan organisasi intra lainnya. Supaya gerakan IMM bisa dirasakan semua pihak, bukan internal IMM saja.

“Itu yang perlu dipikirkan, ada komunikasi yang intens, juga perlu gerakan bersama,” lanjut Akbar.

Akbar berpesan untuk periode sebelumnya. “Tetap melanjutkan proses perkaderan yg ada di IMM, jika kemarin sudah DAD, selanjutnya naik level mengikuti DAM. Semoga bisa melanjutkan ke tampuk pimpinan selanjutnya.

“Pesan terakhir untuk semuanya, terinspirasi dari QS Al Baqoroh ayat 286, bahwa Allah SWT tidak membebani suatu kaum, di luar batas kemampuan kaum tersebut. Untuk itu, jangan pernah takut dan menyerah,” tutup Akbar. (Fathi)